Posts Tagged ‘Nice Articles

26
Sep

Doraemon Ending

Duluu, Doraemon adalah salah satu film kartun yang gwe tunggu klo hari minggu. Kartun yang ga ada mati-nya, walau ceritanya gitu2 doang klo dipikir lagi mah, hehe.. Film kartun lain datang dan pergi di RCTI, Doraemon tetep ada, kaya ga ada endingnya gitu. Emang sih, si pengarangnya, Fumio F. Fujiko, ga sempet nulis ending Doraemon sampe akhir hayatnya *tsah, bahasa gwe*, naah, ketika abis dia meninggal, muncul banyak versi tentang ending-ending Doraemon.

Duluu gwe sempet dikirimin tuh beberapa komik alternatif ending Doraemon, tapi gwe lupa email gwe apa dan passwordnya, hehe, masih belom jaman orang2 punya email sepertinya, hoho..

Untungnya, dari beberapa alternatif itu, yang paling gwe sukaa, ternyata ada versi Indonesia-nya, nemu di blog-nya Titiw. Buat Mas Ang, makasiy yak udah di-upload tuh komiknya. :D

Btw, klik disini klo mau tau tentang ending-ending Doraemon lainnya.

Well, tanpa babibu lagi, let’s the story begin..

http://i166.photobucket.com/albums/u113/anggitpy/Doraemon%20Ending/01.jpg?t=1182619921

http://i166.photobucket.com/albums/u113/anggitpy/Doraemon%20Ending/02.jpg?t=1182619921

http://i166.photobucket.com/albums/u113/anggitpy/Doraemon%20Ending/03.jpg?t=1182619921

http://i166.photobucket.com/albums/u113/anggitpy/Doraemon%20Ending/04.jpg?t=1182619921

http://i166.photobucket.com/albums/u113/anggitpy/Doraemon%20Ending/05.jpg?t=1182619921

http://i166.photobucket.com/albums/u113/anggitpy/Doraemon%20Ending/06.jpg?t=1182619921

http://i166.photobucket.com/albums/u113/anggitpy/Doraemon%20Ending/07.jpg?t=1182619921

http://i166.photobucket.com/albums/u113/anggitpy/Doraemon%20Ending/08.jpg?t=1182619921

http://i166.photobucket.com/albums/u113/anggitpy/Doraemon%20Ending/09.jpg?t=1182619921

http://i166.photobucket.com/albums/u113/anggitpy/Doraemon%20Ending/10.jpg?t=1182619921

http://i166.photobucket.com/albums/u113/anggitpy/Doraemon%20Ending/11.jpg?t=1182619921

http://i166.photobucket.com/albums/u113/anggitpy/Doraemon%20Ending/12.jpg?t=1182619921

http://i166.photobucket.com/albums/u113/anggitpy/Doraemon%20Ending/13.jpg?t=1182619921

http://i166.photobucket.com/albums/u113/anggitpy/Doraemon%20Ending/14.jpg?t=1182619921

http://i166.photobucket.com/albums/u113/anggitpy/Doraemon%20Ending/15.jpg?t=1182619921

http://i166.photobucket.com/albums/u113/anggitpy/Doraemon%20Ending/16.jpg?t=1182619921

30
Jan

:: Adidas Batik ::

Adidas_mat_ind_sm_1

Quote from FreshnessMag :

The folks at Overkill Shop sent over some information regarding the latest release for adidas‘ Materials of the World project.  The nation in focus this time is the archipelago nation of Indonesia.

The inspiration comes from Batik-Made, beautiful fabrics with
intricate details found on the island of Java. The ancient art of dying
the fabric through a series of procedures makes Batik-Made a fabric of
Javanese royalty and one of six high arts of Indonesia. Now, you can
enjoy it too in the forms of adidas Originals
Metro Attitude Hi, track jacket, and cap. The sneaker also comes in
women�s version. However, like Batik-Made, only a few can own since
there are only 1000 pairs available globally.

Adidas_mat_ind_01_1

adidas Cap - Materials of the World - Indonesia

Adidas_mat_ind_02_1

adidas Track Jacket - Materials of the World - Indonesia

Adidas_mat_ind_03

adidas Men’s Metro Attitude Hi - Materials of the World - Indonesia

Adidas_mat_ind_04

adidas Women’s Metro Attitude Hi - Materials of the World - Indonesia

*Photos and article courtesy on Freshness Mag.

~~~

So, what d’ya think?

08
Jan

.. About Commitment ..

Mencomot dari blog Jenny :

Tergelitik dan terpesona *alah* oleh novel TESTPACK karangan Ninit Yunita (yang
bercerita tentang kekuatan sebuah komitmen, dan sumpah Keren banget!),
saya lantas berandai-andai dan mencoba menyimpulkan arti komitmen –
versi saya sendiri, tentunya.

Setelah berhari-hari merenung (bo’ong benerrr) sambil mengintip halaman terakhir TESTPACK *haha!*, saya berhasil menggali beberapa makna komitmen. Kalau ada yang punya definisi lain tentang komitmen, monggo lho, ditunggu pendapatnya… :)

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang suami menerima istrinya dengan segala kekurangan dan kelemahannya tanpa menghakimi. Bersyukur ketika istrinya tampil menawan, dan sama bersyukurnya ketika sang istri
mengenakan daster dengan wajah berminyak tanpa make-up. Bersyukur ketika bentuk tubuh sang istri berubah setelah melahirkan, dan tetap mengecupnya sayang sambil bilang, “Kamu cantik.”

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang suami tidak membongkar kelemahan istrinya pada orang lain. Sebaliknya, menutupi rapat-rapat setiap
kekurangan itu dan dengan bangga bertutur bahwa sang istri adalah
anugerah terindah yang pernah hadir dalam hidupnya.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang istri menunggui suaminya pulang hingga larut malam, membuatkan teh hangat dan makanan panas, dan tetap terbangun untuk menemani sang suami bersantap serta mendengarkan cerita-ceritanya yang membosankan di kantor.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang istri bertahan ketika suaminya jatuh sakit, dan dengan sukacita merawatnya setiap hari. Menghiburnya, menemaninya, menyuapinya, memandikannya, membersihkan kotorannya.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang istri terus mendampingi suaminya tanpa mengeluh atau mengomel. Sebaliknya, dengan setia tetap mendukung dan menyemangati meski sang suami pulang ke rumah dengan tangan kosong, tanpa sepeser uang pun.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat sepasang suami istri memutuskan untuk terus mengikatkan diri dalam pernikahan, dengan tulus dan sukacita, meskipun salah satu dari mereka tidak bisa memberikan anak.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat putra pelaku kriminal berkata kepada Ayahnya, “Saya percaya pada Papa. Papa tetap yang terbaik.”

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang yang bergelar S3 dengan jabatan direktur perusahaan multinasional pulang ke rumah orangtuanya, mencium mereka dengan hormat, serta memanggil mereka ‘Ayah’ dan ‘Ibu’.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang Ayah menerima kembali anaknya yang telah menyakiti dan meninggalkannya begitu rupa dengan tangan terbuka, memeluknya dan melupakan semua kesalahan yang pernah dilakukan si anak terhadapnya.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang Ibu mengelus sayang anak yang pernah mencacinya, dan tetap mencintainya tanpa syarat.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang mengulurkan tangan kepada sahabatnya yang terjerembab, menariknya berdiri dan membantunya berjalan tanpa mengatakan, “Tuh, apa kubilang! Makanya…”

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang pekerja menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik, sekalipun tugas itu amat berat dan upah yang diperoleh tidak sepadan.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang membulatkan hati dan tekad demi mencapai sebuah tujuan, sekalipun ia belum dapat mengetahui hasil akhir dari tujuan tersebut. Berjerih payah dan berkorban demi menyelesaikan tujuannya, sekalipun semua orang meninggalkannya.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang rela meninggalkan segala sesuatu yang berharga demi memenuhi panggilan hidupnya, walau harga yang harus dibayar tidak sedikit dan medan yang ditempuh tidak ringan.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang memikul resiko dan konsekuensi dari keputusannya tanpa mengeluh, dan menjalaninya dengan penuh rasa syukur sebagai bagian dari kehidupan yang terus berproses.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang berani setia dan percaya, meski harapannya tidak kunjung terpenuhi dan tidak ada yang dapat dijadikan jaminan olehnya.

Komitmen adalah sesuatu yang melampaui segala bentuk perbedaan, perselisihan dan pertengkaran. Ia tidak dapat dihancurkan oleh kekurangan, kelemahan maupun keterbatasan lahiriah… karena ketika kita berani mengikatkan diri dalam sebuah komitmen, kita telah ‘mati’ terhadap kepentingan diri sendiri.

Izinkan saya menyimpulkan tulisan ini dengan kalimat seorang perempuan bijak yang saya temukan beberapa waktu lalu:

“In the final analysis, commitment means: ‘Here I am. You can count on me. I won’t fail you.’”

07
Sep

90 / 10 Theorem

*Copy-Paste dari postingan lama gwe di blogspot*

Apa Rahasia 90/10?

10% kehidupan dibuat oleh hal-hal yang terjadi terhadap kita.
90% kehidupan ditentukan oleh bagaimana kita bereaksi / memberi respon.

Apa artinya?

Kita sungguh-sungguh tidak dapat mengontrol 10% kejadian-kejadian yang
menimpa kita. Kita tidak dapat mencegah kerusakan mobil. Pesawat mungkin terlambat, dan mengacaukan seluruh jadwal kita. Seorang supir mungkin menyalip kita di tengah kemacetan lalu-lintas. Kita tidak punya kontrol atas hal yang 10% ini.

Yang 90% lagi berbeda. Kita menentukan yang 90% !

Bagaimana?
Dengan reaksi kita. Kita tidak dapat mengontrol lampu merah, tapi dapat mengontrol reaksi kita. Jangan biarkan orang lain mempermainkan kita, kita dapat mengendalikan reaksi kita!

Mari lihat sebuah contoh.

Engkau sedang sarapan bersama keluarga. Anak perempuanmu menumpahkan secangkir kopi ke kemeja kerja mu. Engkau tidak dapat mengendalikan apa yang telah terjadi itu. Apa yang terjadi kemudian akan ditentukan oleh bagaimana engkau bereaksi. Engkau mengumpat. Engkau dengan kasar memarahi anakmu yang menumpahkan kopi. Dia menangis. Setelah itu, engkau melihat ke istrimu, dan mengkritiknya karena telah menaruh cangkir kopi terlalu dekat dengan tepi meja. Pertempuran kata-kata singkat menyusul. Engkau naik pitam dan kemudian pergi mengganti kemeja. Setelah itu engkau kembali dan melihat anak perempuan mu sedang menghabiskan sarapan sambil menangis dan siap berangkat ke sekolah. Dia ketinggalan bis sekolah. Istrimu harus segera berangkat kerja. Engkau segera menuju mobil dan mengantar anak mu ke sekolah. Karena engkau terlambat, engkau mengendarai mobil melewati batas kecepatan maksimum.
Setelah tertunda 15 menit karena harus membayar tilang, engkau tiba di sekolah. Anakmu berlari masuk. Engkau melanjutkan perjalanan, dan tiba dikantor terlambat 20 menit, dan engkau baru sadar, bahwa tas kerjamu tertinggal.

Hari-mu begitu buruk. Engkau ingin segera pulang. Ketika engkau pulang, engkau menemukan ada hambatan dalam hubungan dengan istri dan anakmu. Kenapa? Karena reaksimu pagi tadi.

Kenapa hari mu buruk?
a) Karena secangkir kopi yang tumpah?
b) Kecerobohan anakmu?
c) Polisi yang menilang?
d) Karena dirimu sendiri?

Jawaban-nya adalah D.

Engkau tidak dapat mengendalikan tumpahnya kopi itu. Bagaimana reaksi-mu 5
detik kemudian itu, yang menyebabkan hari mu menjadi buruk.

Ini yang mungkin terjadi jika engkau bereaksi dengan cara yang berbeda. Kopi tumpah di kemejamu. Anakmu sudah siap menangis. Engkau dengan lembut berkata “Tidak apa-apa sayang, lain kali kamu lebih hati-hati ya..” Engkau pergi mengganti kemejamu dan dan tidak lupa mengambil tas kerjamu. Engkau kembali dan melihat anakmu sedang naik ke dalam bus sekolah. Istrimu menciummu sebelum engkau berangkat kerja. Engkau tiba di kantor 5 menit lebih awal, dan dengan riang menyalami para karyawan. Atasanmu berkomentar tentang bagimana baiknya hari ini buat mu.

Lihat perbedaannya. Dua skenario yang berbeda. Keduanya dimulai dari hal yang
sama, tapi berakhir dengan berbeda. Kenapa? Karena REAKSI kita. Sungguh kita tidak dapat mengontrol 10% hal-hal yang terjadi. Tapi yang 90% lagi ditentukan oleh reaksi kita.

~~~

See? Life is all about perspective after all..

30
Oct

Makna Lebaran..

Assalamu’alaikum wr wb

Sekali2 mau posting serius aaah, huhuhuww.. *agak2 ga mungkin ya?*
Um, lets see..

Buat gwe, lebaran kali ini agak berbeda dengan lebaran2 sebelumnya. Kenapa? Ini lebaran pertama kalinya gwe ga ngikutin pemerintah, dengan beberapa alesan. Pertama, karena emang Dad lebaran hari itu, tapi itu bukan alesan utama. Kedua, gwe mungkin ga percaya sama pemerintah. Itu juga bukan alesan utama. Ketiga, coz tanggal 1 Syawal itu diharamkan untuk berpuasa. Mungkin ini salah satu alesan utama gwe, coz klo ternyata emang bener 1 Syawal hari Senin kan, ya berarti gwe bener tuh lebaran. Klo pun 1 Syawal yang bener hari selasa, ya berarti ntar gwe ganti puasa 1 di bulan lain.
But, bukan berarti gwe menyalahkan orang lebaran hari Selasa lho. Walau pun 1 Syawal misalnya bener hari Senin dan orang2 puasa hari itu, klo mereka meyakini 1 Syawal itu hari selasa, yaa, mereka ga dosa kok. Coz ada hadist yang mengatakan *kurang lebih* kaya gini, “bila engkau meyakini bahwa engkau benar, walau pun sebetulnya engkau bersalah, Allah akan mengampuni engkau, dan tetap menerima ibadah mu.” Kurang lebih kaya gitu, itu kasus wudhu sih waktu gwe mendengarnya. Klo misalnya kita yakin kita belom batal wudhu, -padahal sebenernya kita batal-, dan kita ga wudhu lagi dan langsung sholat, itu solat kita di terima, gitu intinya. Tapi lo harus bener2 meyakini klo lo bener.

Eh, back to topic. Terus, kenapa lebaran ini juga beda dari taon2 sebelumnya, coz tahun ini gwe ga nge-sms2 lebaran ke orang2. Hampir sama sekali ngga, cuma beberapa orang doang yang gwe kirimin pake sms jatah gratisan IM3, dan ke beberapa orang yang gwe anggap spesial dalam hidup gwe, atau orang2 yang gwe tau gwe punya salah ke mereka. Tapi itu paling semuanya cuma sekitar 13 orang lah. Biasanya, semales2nya gwe nge-sms lebaran, se-ngga-punya2nya pulsa, minimal gwe membalas sms orang2 yang ngirimin gwe. Tapi tahun ini ngga. Kenapa?

Yaah, karena gwe pikir, sms lebaran itu udah kehilangan maknanya. Sms2 itu cuma jadi formalitas doang, atau ajang menunjukkan existensi dirinya, atau sekedar sharing sms ‘bagus’. Mungkin gwe agak apatis, tapi buat gwe, sms itu udah menyimpang jauh dari tujuan/isinya. Mungkin klo isi “selamat lebaran yaa” itu cuma satu-satunya yang bener. Maksud gwe, iya, mungkin bener mereka ingin menyelamati kita, sama kaya menyelamati kita di hari ultah kita. Tapi sisanya, “mohon maaf lahir dan batin” gwe ga yakin mereka mengucapkannya dengan setulus hati. Mereka bahkan mungkin ga tau kesalahan mereka apa, dan mereka juga ga bener2 meminta maaf, hanya karena itu udah jadi “template” wajib di sms lebaran aja. Sama kaya “Minal Aidin wal Faidzin” dan “Taqabballahu minna wa minkum”, *sekali lagi mungkin gwe bersikap apatis*, banyak dari orang yang menuliskan itu ga tau apa artinya. Sekali lagi juga, karena emang itu udah “template” dan bagian dari paket sms lebaran.

Well, mungkin lo yang baca juga ga tau ya? =) Berapa banyak dari kalian yang mengasosiasikan “minal aidin wal faizin” dengan “mohon maaf lahir dan batin”, jadi klo ketemu orang pas lebaran, sambil salaman ngomong, “minal aidin yaa” dan maksud lo adalah ngomong, “mohon maaf yaa..”
Anyone of you, guys? =)

Ngaku aja kalee, gwe ga nyalahin lo kok, hehe.. Emang begitu lah keadaan di Indonesia saat ini, huhuhu.. I was happened to believed in that too, until beberapa tahun lalu gwe penasaran dengan arti “minal aidin wal faizin”, dan gwe nanya2 ke orang2.. Luckily, at last, pfiuh *coz ini perjuangan setelah menanyakan ke hampir setengah penduduk Indonesia yang gwe kenal, hehehe*, akhirnya ada juga yang tau. Beberapa hari yang lalu, gwe googling untuk bahan post ini, jadi isi post dibawah ini bukan pengetahuan gwe yang ‘waaah’, hehe.. gwe tadinya juga cuma tau klo “minal aidin wal faizin” itu sebenernya doa yang kira2 klo di bahasa Indonesia-in kaya gini : “Semoga kita termasuk golongan orang2 yang kembali dan juga golongan orang2 yang meraih kemenangan” coz aidin itu artinya orang2 yang kembali, dan faizin berarti orang2 yang menang. Gitu..

Nih asal kata “minal aidin wal faizin” dari artikel yang gwe temuin itu :

Kalau kita tadi menyoal tentang asal kata Ied (masdar atau kata dasar dari ‘aada=kembali), sekarang kita mencoba untuk membongkar asal kata ‘Aidin dan Faizin.

‘Aidin itu isim fa’il (pelaku) dari ‘aada. Kalau anda memukul (kata kerja), pasti ada proses pemukulan” (masdar), juga ada “yang memukul” (anda pelakunya).
Kalau kamu “pulang” (kata kerja), berarti kamu “yang pulang” (pelaku). Pelaku dari kata kerja inilah yang dalam bahasa Arab disebut dengan isim fa’il.

‘Aidin atau ‘Aidun itu bentuk jamak (plural) dari ‘aid, yang artinya “yang kembali” (isim fa’il. Baca lagi teori di atas). Mungkin maksudnya adalah “kembali kepada fitrah” setelah berjuang dan mujahadah selama sebulan penuh menjalankan puasa.

‘aada = ia telah kembali (fi’il madhi)
Ya’uudu = ia tengah kembali (fi’il mudhori)
‘audat = kembali (kata dasar)
‘ud = kembali kau! (fi’il amr/kata perintah)
‘aid = ia yang kembali (isim fa’il).

Faizin juga sama. Dia isim fa’il dari faaza (past tense) yang artinya “sang pemenang”.

Urutannya seperti ini:

Faaza = ia [telah] menang (past tense)
Yafuuzu = ia [sedang] menang (present tense)
Fauzan = menang (kata dasar)
Fuz = menanglah (fi’il amr/kata perintah)

Fa’iz = yang menang.

‘Aid (yang kembali) dan Fa’iz (yang menang) bisa dijamakkan menjadi ‘Aidun dan Fa’izun. Karena didahului “Min” huruf jar, maka Aidun dan Faizun menyelaraskan diri menjadi “Aidin” dan “Faizin”. Sehingga lengkapnya “Min Al ‘Aidin wa Al Faizin”. Biar lebih mudah membacanya, orang biasa menulis dengan
“Minal Aidin wal Faizin”.

Lalu mengapa harus diawali dengan “min”?

“Min” artinya “dari”.
Sebagaimana kita ketahui, kata “min” (dari) biasa digunakan untuk menunjukkan kata keterangan waktu dan tempat. Misalnya ‘dari’ zuhur hingga ashar. Atau ‘dari’ Cengkareng sampe Cimone.

Selain berarti “dari”, Min juga mengandung arti lain. Syekh Ibnu Malik dari Spanyol, dalam syairnya menjelaskan: “Ba’id wa bayyin wabtadi fil amkinah Bi MIN wa qad ta’ti li bad’il azminah.”

“Maknailah dengan “sebagian”, kata penjelas dan permulaan tempat dengan MIN. Kadang ia untuk menunjukkan permulaan waktu.”

Dari keterangan Ibnu Malik ini, kita bisa mendapatkan gambaran bahwa MIN pada MIN-al aidin wal faizin tadi menunjukkan kata “sebagian” (lit-tab’idh).

Jadi secara harfiyah, minal ‘aidin wal-faizin artinya:

“BAGIAN DARI ORANG-ORANG YANG KEMBALI DAN ORANG-ORANG YANG MENANG.”

Kesimpulannya?
Yang jelas Minal Aidin tidak ada hubungannya dengan mohon maaf lahir dan batin. =)

Lalu, gimana dengan Taqabballahu minna wa minkum? Atau Taqabbalallahu minna wa minkum. Sama aja. Penulisan itu dua-duanya bener kok. Tapi, sekali lagi, apa orang yang nulis itu tau artinya? Sama dengan kasus minal aidin, beberapa tahun yang lalu, gwe nanya2in arti kata2 ini juga, dan sekali lagi, sama dengan minal aidin juga, ternyata susah nemuin orang yang tau artinya, hehe. Akhirnya, yang jawab pertanyaan gwe ini sama ma yang jawab pertanyaan minal aidin gwe, yaitu salah satu oom gwe di Makassar. He told me, artinya itu kira2 mendoakan orang kaya gini, “Semoga Allah menerima amalanku dan amalanmu” Maksudnya amal ibadah.

Nah, sebenernya yang disunnahkan Rasulullah untuk diucapkan pada hari Idul Fitri, atau lebaran, ya kata2 ini, bukan minal aidin wal faizin. Dari artikel hasil googling gwe untuk post ini :

Rasulullah biasa mengucapkan taqabbalallahu minna wa minkum kepada para sahabat, yang artinya semoga Allah menerima aku dan kalian. Maksudnya menerima di sini adalah menerima segala amal dan ibadah kita di bulan Ramadhan.

Beberapa shahabat menambahkan ucapan shiyamana wa shiyamakum, yang artinya puasaku dan puasa kalian. Jadi ucapan ini bukan dari Rasulullah, melainkan dari para sahabat.

Kemudian, untuk ucapan minal ‘aidin wal faizin itu sendiri tidak pernah dicontohkan, sepertinya itu budaya orang Indonesia. Yang sering salah kaprah adalah ucapan tersebut biasanya diikuti dengan “mohon maaf lahir dan batin”.

Jadi seolah-olah minal ‘aidin wal faizin itu artinya mohon maaf lahir dan batin.
Padahal arti sesungguhnya bukan itu. Minal ‘aidin artinya dari golongan yang kembali. Dan wal faizin artinya dari golongan yang menang. Jadi makna ucapan itu adalah semoga kita termasuk golongan yang kembali (maksudnya kembali pada fitrah) dan semoga kita termasuk golongan yang meraih kemenangan.

Sampai di sini, ternyata ucapan tsb (Minal Aidin Wal Faidzin) tidak pernah ada dasar dan tuntunannya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 2/446 mengatakan: “Kami meriwayatkan dari guru-guru kami dalam “Al-Mahamiliyy at” dengan sanad hasan dari Jubair bin Nufair, beliau berkata: “Para sahabat Rasulullah apabila mereka saling jumpa pada hari raya, sebagian mereka mengucapkan pada lainnya: “Semoga Allah menerima amalanku dan amalanmu”.

Ibnu Qudamah juga menyebutkan dalam Al-Mughni 2/259 bahwasanya Muhammad bin Ziyad mengatakan :

“Saya pernah bersama Abu Umamah Al-Bahili dan para sahabat Nabi lainnya, maka apabila mereka kembali dari Ied, sebagian mereka berucap pada lainnya : “Semoga Allah menerima amalanku dan amalanmu”

(Imam) Ahmad berkata : “Sanad hadits Abu Umamah jayyid (bagus)”. Imam Suyuthi juga berkata dalam Al-Hawi (1/81): “Sanadnya hasan”.

Adapun ucapan: “Minal Aidin Wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin”,
“halal bi halal” atau “kosong-kosong” serta ungkapan-ungkapan lainnya, maka sebaiknya dihilangkan dan kita ganti serta membiasakan diri dengan lafadz syar’i yaitu (Taqobballahu Minna Wa Minka) sehingga kita tidak terj atuh dalam ayat : “Apa kamu mau mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik ?”
(QS Al Baqarah: 61)

[Quoted from majalah Al Furqon Edisi 2 Th. II hal 37 "Hari Raya Bersama Nabi Shollallahu 'Alaihi Wasallam"]

Lanjut, apaan lagi yaa?
Ooh, iya, satu lagi, klo ini gwe baru tau tahun ini, dari Republika beberapa hari lalu, klo ternyata Halal bihalal itu bukan bahasa Arab! Itu buatan orang Indonesia, yang ga ada artinya dalam bahasa arab. Ckck, aneh2 aja ya orang Indonesia? hehehe..

Ya suw lah, gwe menepati janji gwe kan untuk posting serius kali ini? hihihi..

Anyway, Happy Belated Eid Mubarak 1427 H.
May Allah SWT bless us with His greatness.

Taqabballahu minna wa minkum.
Wa shiyamana wa shiyamakum.
Wassalamu’alaikum wr wb.

If God answers your prayer, He is increasing your FAITH. If He delays, He is increasing your PATIENCE. If He doesn’t answer, He has something BETTER for you.

-NdiY-




Flash News

Hamdiy is currently listening to :
Ingrid Michaelson - The Way I Am
Depapepe - Ii Hi Datta Ne