14
Nov
07

:: Sources of Happiness ::

Kebahagiaan ituuuu.. adalah sebuah perasaan, sebuah feeling, yaa, sesuatu yang kita rasakan, tanpa bisa dipaksakan, seperti perasaan2 lainnya; sedih, jatuh cinta, you name it!

Kebahagiaan itu ga dateng begitu aja, sampe dibilang, we have to pursuit our happiness. Gimana caranya? Yang namanya mengejar sesuatu, ya harus tau dong sumbernya apa, sesuatu yang membuat kita bahagia, yang katanya harus kita kejar ituh.

Um, sumber kebahagiaan itu banyak, dan bisa apa aja. Bisa sesuatu yang dilakukan seseorang, sesuai harapan kita, or better yet, exceed or beyond our expectation, bisa karena mendapatkan sesuatu yang kita pikir kita inginkan *karena belum tentu yang kita inginkan itu baik, tapi biasanya klo kita dapet apa yang kita mau, kita bahagia*, yaah, biasanya sih bersumber dari seseorang, entah itu temen, pacar, orang tua, mungkin juga hewan peliharaan, atauu, dari suatu pemandangan yang kita suka, dan sesuatu yang indah2 dan kita sukain itu bisa membuat kita bahagia.

Klo lo setuju dengan tulisan gwe diatas, well, selamat, anda salah. Gwe mau membantahnya. :D

Um, klo lo berpikir sumber kebahagiaan diri lo itu dari orang lain, atau sesuatu dari luar diri lo, well, siap2 aja kecewa dan sedih, karena ketika orang2 itu meninggalkan kita, sesuatu itu hilang, yaa kebahagiaan lo akan ikut hilang. So, klo konsep kebahagiaan lo seperti itu, yaa, your happiness will not last forever.

Lalu, gimana dong? Um, klo lo ga sadar, sebenernya kebahagiaan itu bisa kita ciptakan lho, ga perlu dikejar. Karena sumber kebahagiaan itu adalah dari diri lo sendiri, itu tergantung elo mau bahagia atau ngga.

Caranya?

Pertama : you have to have a power to believe in yourself worth, coz that IS the most important thing. This is the power that can change your destiny.

You know what? Gwe yakin seyakin2nya klo there’s nothing in this world could bring me down, really. Mau apaan juga yang terjadi, gwe pasti bisa menerimanya. Karena, you know, klo lo pikir2 lagi, semua masalah yang terjadi di dunia ini adalah karena natural-habit of people, yaitu suka ga terima kenyataan, sebisa mungkin maunya semua berjalan sesuai keinginan dia.

Well, you can’t. You just can’t. Ga mungkin deh semua dalam hidup lo berjalan sesuai rencana dan keinginan lo. Sebenernya, semua orang juga tau klo cuma itu doang. Masalahnya adalah, orang itu ga tau yang mana worth to fight for, sesuatu yang emang bisa kita ubah jadi sesuai keinginan kita, dan kapan kita harus terima, klo kita emang ga bisa mengubah kenyataan itu, whatever we’ll do. When those kind of things happen, harusnya sih idealnya, orang itu just deal with it, terima aja kenyataan itu. Sayangnya ga semua orang bisa berbuat se-rasional itu, makanya muncul masalah. Coba klo aja dia just deal with it, kan ga ada masalah. Lo akan selalu bahagia dengan apa pun yang terjadi, even it is a bad things *that happen to you*, coz ini emang konsep kebahagiaan yang bener, yaitu : kebahagiaan bukanlah mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, melainkan menyukai apa yang kita dapatkan.

Ngomong2, pada ngerti ga sih apa yang gwe omongin? Hehe, kok gwe jadi bingung sendiri ya? :D Gwe lagi males nulis contoh, ntar jadi ngelantur kemana2 abisan, huhu..

Moral of the story : Selama lo bisa menerima kenyataan apa pun yang terjadi, bersyukur dengan keadaan lo, lo akan selalu bahagia.

Kedua : HEY!! Lighten up, stop worrying so much about what everybody else thinks. Ini, natural habit of people yang lain, yang hobinya juga menciptakan masalah yang ga perlu muncul.

Gwe ga ngerti, kenapa orang tuh pada hobi banget mikirin, “apa kata orang nantinya?” atau “apa kata orang2 tentang gwe nih?”

I know, kita hidup di sebuah society, di suatu lingkungan, kita harus menjaga perasaan orang lain, harus mikirin perasaan orang lain. Tapi kan bukan berarti, we have to always pleased them all. It’s your life, for God shake!

Nah, ini bisa gwe kasih contoh : We are all live in sick cycle caraousle, suatu circle yang berulang2 gitu2 aja. Ketika kita kuliah, ditanyain kapan lulus, abis lulus, ditanya kerja dimana, klo udah kerja, ditanya kapan kawin, klo udah kawin ditanyain udah punya anak, untungnya abis itu ga ditanyain lagi, kapan mati, hehe..

Klo lo belom lulus, ya udah, toh ntar juga lulus *mau ga mau*. Klo misalnya udah lulus dan ga dapet2 kerja, *nah, ini nih kayanya yang paling malesin*, ya udah sih, cuek aja, emang belom dapet kerja kok, toh, lo kan udah usaha nyari kerja, so what’s to be ashamed of sih? Klo lo jomblo, bodo amat deh apa kata orang, it won’t affect you.

Aah, back to the topic. Yang mau gwe bilang adalah, sering kali, saking pengennya lo dianggap “bagus” oleh orang2 sekeliling lo, lo jadi stress sendiri, atau ga menjadi diri lo sendiri, just to pleased them.

The moral of the story : don’t let anyone make a pressure on you. If you stop worrying so much about what everybody else thinks about you, lo akan selalu bisa bahagia.

Dan yang ketiga, terakhir : the fear of the unknown, a.k.a. future.

Yah, this might be the closing-trilogy for natural habit of people yang menciptakan masalah. Yeah, ketidakpastian emang pasti buat orang takut, namanya juga ga pasti. TAPI, lo tau darimana, sesuatu yang lo takutin itu pasti terjadi klo lo melakukan sesuatu?

Yang namanya teori kemungkinan itu kan probabilita-nya sama, 50% terjadi, 50% ga terjadi. Nah, terus apa yang lo takutin? Toh, probabilitanya cuma 50% terjadi.

Gwe kasih contoh, misalnya shoot bola ke ring basket. Probabilita klo lo shoot bola basket ke ring itu 50% masuk, dan 50% ga masuk. But, you’ll miss 100% of the shots you don’t take. Iya kan? Klo lo ga nyoba, ya emang ga mungkin masuk bolanya.

Kalo lo ga melakukan sesuatu karena the-fear-of-the-unknown ini, bukannya lo menghilangkan probabilita 50% satu lagi? Padahal, 50% lainnya itu, ya pastinya kebahagiaan lah, kan 50% awal yang lo takutin itu sesuatu hal yang ga membuat lo bahagia.

*Garuk2 kepala, males jelasin, tapi yakin klo orang ga ngerti bacanya*

Ginih, misalnya ya, orang ga mau melakukan sesuatu karena takut gagal. Probabilita gagal itu kan 50%. 50%nya lagi sukses.

Nah, klo lo ga nyoba, kan lo mengeliminasi probabilita 50% sukses, jadi 100% gagal, kan? Nah, padahal klo aja lo mau mencoba, dan ternyata yang terjadi si probabilita 50% sukses itu, lo akan bahagia, bukan?

Emang sih, klo lo lakukan, masih tetep ada kemungkinan gagal. Tapi, klo pun gagal, you will never regret it, karena setidaknya lo udah mencoba. Balik lagi ke rule #1, just deal with it.

But, well, believe me, twenty years from now, you will be more disappointed by the things you didn’t do than by the things you did.

The moral of the story : Dont let the-fear-of-the-unknown stop you to do things you really want to do. You’ll never know unless you try. For every  treasure, there’s always a price to pay, that’s the risk, babe! So, for a great happiness, there’s a great risk too. BUT, as I always said, the risk must be taken, coz the greatest regret of all is to never took that risk.

Begitu lah, hope you’ll find your happiness in yourself. You’ll always do fine like me then, have nothing to worried about, and feel happy everyday. :D

Good luck on finding your happiness! ;)




0 Responses to “:: Sources of Happiness ::”


  1. No Comments

Leave a Reply




Flash News

Hamdiy is currently listening to :
Ingrid Michaelson - The Way I Am
Depapepe - Ii Hi Datta Ne