“You are totally weird. Some say unique, but for me, it’s weird.”
*stay calm* “Can you explain me, why?”
“You love to discuss, alright. Anywhere, anytime, anyone; doesn’t matter. And maybe you’re correct, sometimes. Or maybe you’re not.”
“And what’s wrong with that?”
“Nothing’s wrong. Except that it makes you the only one whose keep argueing against the already established and/or achieved
consensus about ‘X’, when everybody else has given up and say ‘Y’. Or even agreed to ‘Z’.”
“Not getting it. Go on.”
“You see, when there’s 1 person with the truth, against 100 wrongful people, that 1 person with the truth wouldn’t be accepted as “the truth” anymore. The balance should be automatically changed as 1 wrongful person against 100 truth people. You and your values would be socially challenged! And you shall lost. Painfully. Totally.”
“Yep! Got your point, man. Thanks. But it’s just me. And no way that I gonna be change the way I am just to please somebody
else. Especially if I believe that I am right, and you are wrong.”
—
Well, suka atau ngga, yang terjadi di dunia sekarang adalah persis seperti diatas. Untuk SATU orang dengan kebenaran melawan 100 orang salah, maka secara hukum sosial, kesalahan 100 orang tersebut akan diterima menjadi 100 kebenaran, –mengikat, mendakwa, menghujat dan menghakimi- dan pendapat selain itu adalah salah.
Lebih parah lagi, orang2 akan memaklumi and no one bother to seek the real truth, coz 100 kesalahan itu akan menjadi suatu persepsi sosial yang benar.
Menyedihkan ya? Um, emang iya. Padahal, gwe yakin banyak yang tau old saying ini: “what is popular is not always right, and what is right is not always popular.”
Tapi, tanpa sadar, ternyata kita sering melakukan itu. Tunduk kepada hukum/persepsi sosial, worries too much about what will people thinks or says about us, dan pada akhirnya, cuma mengikuti arus, ga punya pendirian. Ikut apa aja yang populer, tanpa [mau] tau [dan peduli] whether its right or wrong.
Bagi orang2, mainstream adalah jalan aman, ya udah, ikutin aja mainstream itu, toh semua orang juga begitu. No one really bother to ponder, why “it” becomes the mainstream, even worse, no one even bother to see the other streams. No one bother to re-check, whether it is right or wrong.
Pokoknya, berprinsip : Follow the mainstream, and you will be save. Aman dari omongan orang2, ga akan dikucilkan, dan ga perlu berdebat dengan orang karena pilihan yang sama.
Mainstream yang gwe omongin disini adalah dalam kasus persepsi sosial ya, bukan mainstream dalam hal lain. Orang biasanya males klo harus against persepsi sosial, coz ya itu tadi, against persepsi sosial berarti, -walau pun lo tau lo bener, atau minimal ‘ngga salah’- akan dicap aneh dan ga normal oleh orang lain, dan untuk sebagian besar orang, omongan orang tentang diri mereka sangat penting untuk citra diri mereka.
Atas alesan itu, banyak orang yang akhirnya ga menjadi diri sendiri, entah dia mengikuti orang lain, atau menjadi seseorang yang ingin dilihat oleh orang lain. Orang akan lebih mementingkan reputasinya depan orang2, dibandingkan dengan mempedulikan karakter aslinya.
‘Ndiy Rules no.71 :
“Be more concerned with your character than your reputation, because your character is what you really are, while your reputation is merely what others think you are.”
Pernah ga sih lo ga jadi melakukan sesuatu karena mikir, “duh, apa kata orang ntar?”, atau semacam itu. Kenapa sih harus peduli dengan apa kata orang? Toh lo yang akan menjalani pilihan lo, asal lo tau lo ga salah, ga melanggar hukum dan agama, kenapa lo mesti takut?
Lighten up, babe. Stop worrying so much about what everybody else thinks. Its your life. If you truly believe that you’re right, you have to be willing to fight for it, just do it. Kenapa harus cape2 mikirin apa kata orang ntar? Klo bisa, buktiin ke mereka semua klo mereka salah.
Um, sebenernya, gwe lagi kampanye “be yourself” nih, coz akhir2 ini gwe menyadari ternyata banyak banget orang yang ga pede dengan dirinya sendiri, ga punya pendirian, gampang terpengaruh oleh keadaan sekitar, dan apa2 cuma ngikut2 aja. Ga ada yang berani speak up their mind.
So, yang mau gwe bilang adalah, don’t be afraid to stand on your own perception, your own thought, your own perspective,
your own paradigm. Pokoknya dont be afraid to be against the mainstream.
Klo perlu, lo ciptain stream baru buat diri lo sendiri.
Be yourself, there are enough other people.
Dan ga perlu ngikut2in mainstream klo emang lo ga suka atau ga setuju, biarin aja orang mau bilang apa kek tentang lo.
Be who you wanna be, not who others choose to see.
Ciptain sendiri definisi cantik lo, lalu bilang ke mereka, I‘m not beautiful like you. I’m beautiful like me. *ini buat cewe2 yang ga pede dengan dirinya, dan pengen terlihat cantik seperti persepsi sosial, yaitu putih, kurus, rambut item panjang lurus dan mengkilap, uh, udah berlebihan ya gwe, hehe*
Ga perlu sama dengan mereka untuk terlihat normal, coz you’re not supposed to be normal, you’re supposed to be you.
Dan terakhir, say the magic words : I am somebody. I am me. I like being me. And I need nobody to make me somebody.
I’m not gonna get drunk to please the crowd..
I’m not gonna be a slut and sleep around..
I’m gonna say what I think and say it loud..
I’m gonna say what I believe and I’m gonna stand proud..
I’m gonna be ME, no matter who i’m around..
Yaa.. tergantung. Kalo menstrimnya aku suka ya ayoh. Orang2 lomba2 pen kurus? aku sudah kurus sekali. Ingin gembrot 10 kg lagi.. tapi kulitku yg hitam ini ya udah, aku beri pelembab saja agar sehat. Aku juga bodo amat kalo seseorang (seseorsng, yuhuuu) bilang aku jorok. Tapi ya emang itu yg ada dipikiran aku, ya udah dikemukakan saja. Namun beda dalam interaksi dengan manusia. Tiap orang punya field of reference dan field of experience yg beda2. Siapa tau aku bilang eek.. kamu ketawa2.. tapi orang yg aku katain itu langsung break down and cry.. Ya ga seehh??!! Ahoy deh..
Sapa tuh Tiw seseorang yang bilang lo jorok? sapa? sini, kasih tau gwe, biar gwe hajar tuh orangnya.
Eh, lupa, itu gwe ya, Tiw? klo gitu, pasti orang yang bilang lo jorok itu keren banget, Tiw. wakakak. *maksa berat*
Ooh, jadi orang lo katain eek itu bukan gwe? pfiuh.. gwe kirain gwe, gwe ketawa2 aja, hehe..