Archive for March, 2007

25
Mar

Does Your Name Fit You?

Hihihi..
lucu nih..
*tumben2an gwe merhatiin bulletin board, bahkan ikutan ngisi juga, hehehe*

Mari kita bernarsis2 ria.


Here goes my name :

H: Easy to fall in love with [so true]
A: LOVES TO FLIRT [HELL yeah]
M: Makes dating fun [yeah, its me]
D: Has one of the best personalities ever [HELL YEAH, baby!]
I: Loves to Laugh [another truth about me]
Y: GREAT kisser [H.E.L.L. Y.E.A.H!! that is actually my middle name]

So, kesimpulannya? My name does DEFINITELY fit me, hahaha..

A: LOVES TO FLIRT
B: Loves people
C: BEST SMILE
D: Has one of the best personalities ever
E: Freaking beautiful
F: People wild and crazy adore you.
G: Never let people tell you what to do.
H: Easy to fall in love with
I: Loves to Laugh
J: Freaking Rowdy
K: Really silly.
L: REALLY easy to fall in love with
M: Makes dating fun
N: Good Gf/Bf
O: Loved by everyone
P: Popular with all types of people.
Q: A hypocrite.
R: a freak in bed
S: Easy to fall in love with
T: one of the best damn bf/gf anyone could ask for
U: Gets hugs
V: Not judgmental
W: Very broad minded.
X: Never let people tell you what to do.
Y: GREAT kisser
Z: Lives life for fun

Perlu bukti? hmm.. ini hasil test dari www.blogthings.com :

What Kind of Seducer Are You?

Result : Your Secuction Style : Fantasy Lover

You know that ideal love that each of us dreams of from childhood? That’s you!
Not because you possess all of the ideal characteristics, but because you are a savvy shape shifter. You have the uncanny ability to detect someone’s particular fantasy… and make it you.

You inspire each person to be an idealist and passionate, and you make each moment memorable.Even a simple coffee date with you can be the most romantic moment of someone’s life.By giving your date exactly what he or she desires, you quickly become the ideal lover.

Your abilities to make dreams come true is so strong, that you are often the love of many people’s lives. Your ex’s (and even people you have simply met or been friends with) long to be yours.

No doubt you are the one others have dreamed of… your biggest challenge is finding *your* dream lover.


http://www.blogthings.com/whatkindofseducerareyouquiz

–> This is a prove for ‘H’

What Kind of Flirt Are You?

Result : You Are a Super Flirt

You love to flirt, so much so that it gets you in trouble.
In almost any situation, you find yourself flirting - even when it’s inappropriate.
You tend to embrace all flirting styles too.. from coy to sexy to playful to serious.
And if someone flirts back, you’ll crank it up even more!

http://www.blogthings.com/whatkindofflirtareyouquiz/

–> This is a prove for ‘A’

What Planet Are You From?

Result : You Are From the Sun

Of all your friends, you’re the shining star.
You’re dramatic - loving attention and the spotlight.
You’re a totally entertainer and the life of the party.
Watch out!
The Sun can be stubborn, demanding, and flirty.

Overall, you’re a great leader and great friend. The very best!

http://www.blogthings.com/whatplanetareyoufromquiz/

What Kind of Friend Are You?

Result : You Are A Good Friend

You’re always willing to listen,
Or lend a shoulder to cry on.
You’re there through thick and thin.
Many people consider you their “best friend”!

http://www.blogthings.com/whatkindoffriendareyouquiz/

–> While these are the proves for ‘M’, ‘D’, ‘I’.

Are You a Good Kisser?

Result : Your Kissing Technique Is: Perfect

Your kissing technique is amazing - and you know it.
You have the confidence to make the first move.
And you always seem to know what kissing style is going to work best.
Sometimes you’re passionate, sometimes you’re a tease. And you’re always amazing!

http://www.blogthings.com/areyouagoodkisserquiz/

–> Still questioning for ‘Y’? TRY ME! hahaha..

P.S. : Nama gwe kurang satu huruf untuk menggambarkan “the whole me” niihh..
Perlu huruf ‘T’ di nama gwe, gwe taro mana ya bagusnya? hehe..

T: one of the best damn bf/gf anyone could ask for. hahaha.


Damn I’m good.
*Anjrit, narsis berat anak ini, sinting! Wakakak.*

25
Mar

Be Yourself, there are enough other people!

“You are totally weird. Some say unique, but for me, it’s weird.”

*stay calm* “Can you explain me, why?”

“You love to discuss, alright. Anywhere, anytime, anyone; doesn’t matter. And maybe you’re correct, sometimes. Or maybe you’re not.”


“And what’s wrong with that?”


“Nothing’s wrong. Except that it makes you the only one whose keep argueing against the already established and/or achieved
consensus about ‘X’, when everybody else has given up and say ‘Y’. Or even agreed to ‘Z’.”


“Not getting it. Go on.”


“You see, when there’s 1 person with the truth, against 100 wrongful people, that 1 person with the truth wouldn’t be accepted as “the truth” anymore. The balance should be automatically changed as 1 wrongful person against 100 truth people. You and your values would be socially challenged! And you shall lost. Painfully. Totally.”


“Yep! Got your point, man. Thanks. But it’s just me. And no way that I gonna be change the way I am just to please somebody
else. Especially if I believe that I am right, and you are wrong.”

Well, suka atau ngga, yang terjadi di dunia sekarang adalah persis seperti diatas. Untuk SATU orang dengan kebenaran melawan 100 orang salah, maka secara hukum sosial, kesalahan 100 orang tersebut akan diterima menjadi 100 kebenaran, –mengikat, mendakwa, menghujat dan menghakimi- dan pendapat selain itu adalah salah.

Lebih parah lagi, orang2 akan memaklumi and no one bother to seek the real truth, coz 100 kesalahan itu akan menjadi suatu persepsi sosial yang benar.

Menyedihkan ya? Um, emang iya. Padahal, gwe yakin banyak yang tau old saying ini: “what is popular is not always right, and what is right is not always popular.”

Tapi, tanpa sadar, ternyata kita sering melakukan itu. Tunduk kepada hukum/persepsi sosial, worries too much about what will people thinks or says about us, dan pada akhirnya, cuma mengikuti arus, ga punya pendirian. Ikut apa aja yang populer, tanpa [mau] tau [dan peduli] whether its right or wrong.

Bagi orang2, mainstream adalah jalan aman, ya udah, ikutin aja mainstream itu, toh semua orang juga begitu. No one really bother to ponder, why “it” becomes the mainstream, even worse, no one even bother to see the other streams. No one bother to re-check, whether it is right or wrong.

Pokoknya, berprinsip : Follow the mainstream, and you will be save. Aman dari omongan orang2, ga akan dikucilkan, dan ga perlu berdebat dengan orang karena pilihan yang sama.

Mainstream yang gwe omongin disini adalah dalam kasus persepsi sosial ya, bukan mainstream dalam hal lain. Orang biasanya males klo harus against persepsi sosial, coz ya itu tadi, against persepsi sosial berarti, -walau pun lo tau lo bener, atau minimal ‘ngga salah’- akan dicap aneh dan ga normal oleh orang lain, dan untuk sebagian besar orang, omongan orang tentang diri mereka sangat penting untuk citra diri mereka.

Atas alesan itu, banyak orang yang akhirnya ga menjadi diri sendiri, entah dia mengikuti orang lain, atau menjadi seseorang yang ingin dilihat oleh orang lain. Orang akan lebih mementingkan reputasinya depan orang2, dibandingkan dengan mempedulikan karakter aslinya.

‘Ndiy Rules no.71 :

“Be more concerned with your character than your reputation, because your character is what you really are, while your reputation is merely what others think you are.”

Pernah ga sih lo ga jadi melakukan sesuatu karena mikir, “duh, apa kata orang ntar?”, atau semacam itu. Kenapa sih harus peduli dengan apa kata orang? Toh lo yang akan menjalani pilihan lo, asal lo tau lo ga salah, ga melanggar hukum dan agama, kenapa lo mesti takut?

Lighten up, babe. Stop worrying so much about what everybody else thinks. Its your life. If you truly believe that you’re right, you have to be willing to fight for it, just do it. Kenapa harus cape2 mikirin apa kata orang ntar? Klo bisa, buktiin ke mereka semua klo mereka salah.

Um, sebenernya, gwe lagi kampanye “be yourself” nih, coz akhir2 ini gwe menyadari ternyata banyak banget orang yang ga pede dengan dirinya sendiri, ga punya pendirian, gampang terpengaruh oleh keadaan sekitar, dan apa2 cuma ngikut2 aja. Ga ada yang berani speak up their mind.

So, yang mau gwe bilang adalah, don’t be afraid to stand on your own perception, your own thought, your own perspective,
your own paradigm
. Pokoknya dont be afraid to be against the mainstream.

Klo perlu, lo ciptain stream baru buat diri lo sendiri.
Be yourself, there are enough other people.

Dan ga perlu ngikut2in mainstream klo emang lo ga suka atau ga setuju, biarin aja orang mau bilang apa kek tentang lo.
Be who you wanna be, not who others choose to see.

Ciptain sendiri definisi cantik lo, lalu bilang ke mereka, I‘m not beautiful like you. I’m beautiful like me. *ini buat cewe2 yang ga pede dengan dirinya, dan pengen terlihat cantik seperti persepsi sosial, yaitu putih, kurus, rambut item panjang lurus dan mengkilap, uh, udah berlebihan ya gwe, hehe*

Ga perlu sama dengan mereka untuk terlihat normal, coz you’re not supposed to be normal, you’re supposed to be you.

Dan terakhir, say the magic words : I am somebody. I am me. I like being me. And I need nobody to make me somebody. :)

I’m not gonna get drunk to please the crowd..
I’m not gonna be a slut and sleep around..
I’m gonna say what I think and say it loud..
I’m gonna say what I believe and I’m gonna stand proud..

I’m gonna be ME, no matter who i’m around..

20
Mar

- The Mundane -


Ooh, kaya gini ya rasanya suka sama cewe yang udah punya pacar? wakakak.


15
Mar

Demi kebaikan mereka?

“Ndi, gwe cape deh bilangin dia. Padahal kan itu demi kebaikan dia sendiri. Kok dia ga mau berubah juga ya?”

“Yeh, klo dia ngerasa dia yang sekarang baik-baik aja tanpa perlu berubah, kenapa dia harus berubah? Which part actually is for her goodness?”

“Lho, klo dia berubah kan, dia bisa jadi lebih baik lagi. Bukannya itu kebaikan buat dia? Nah dia yang sekarang egois bin jutek gitu, ga pernah mikirin perasaan orang lain, gimana mau dibaik2in?”

“Dia ga perduli juga kok kayanya pada mau baik2in dia atau ngga. Intinya, dia ga merasa terganggu dengan diri dia dan keadaan dia sekarang ini. Dan dia ga ngerasa perlu untuk berubah. Lagian sebenernya kalau dia berubah, yang jadi lebih baik bukannya elo dan orang-orang di sekitar dia? Karena jadi ga perlu ngadepin sikap dia yg katanya egois bin juteknya itu?”

“Yaaa, itu juga sih.”

“Hahah.. jadi demi kebaikan lo dan mereka dong, bukan dia?”

“Ya kebaikan buat dia juga. Klo dia berubah, semua orang seneng dan dia juga lebih nyaman sama dirinya sendiri. Emangnya elo ga terganggu dengan sikap egois bin juteknya dia?”

“Hahaha.. yah klo mau dibilang terganggu, ngga juga. Gwe ga butuh baik-baik dan manis-manis ataupun dibaik2in dan dimanis2in. Dia mau jutek dan egois, go ahead, itu hak dia untuk bersikap gimana. Lagian di mata gwe, dia punya nilai lebih kok. Biarpun dia jutek, egois, dan seenak perut, dia jujur dan terus terang.”

“Tapi?”

“Tapi apa?”

“Ya tadi kan lo bilang ‘klo mau dibilang terganggu ga juga’, tapi?”

“Ohh.. tapi yah klo emang dia mau berubah jadi sosok yg lebih baik, yah gwe sih seneng2 aja.”

“Intinya lo juga ngerasa dia harus berubah kan? Dengan berubah jadi lebih baik buat dia kan? kan?”

“Nope. Intinya gwe ngerasa dia harus menjadi dirinya sendiri dan merasa nyaman dengan dirinya itu. Klo dia ngerasa ga nyaman dan harus berubah, yah itu bagus. Tapi klo dia memaksakan berubah lalu justru ngerasa jadi ga nyaman, yah ga guna juga.”

“Jadi lo mendingan dia begitu aja dengan sifat jeleknya biarpun lo tau itu jelek? Lo ga akan bilangin dia supaya lebih baik?”

“Selama elo dan orang lain yang merasa sifat dia jelek, dan bukan dia sendiri yang ngerasa sifatnya jelek, ga akan ada gunanya. Intinya semua perubahan harus didasari atas keinginan dan keperluan dia sendiri. Bukan elo, atau gwe.  Dan tentang bilangin atau nasehatin, tentu gwe akan bilang kalau gwe merasa terganggu dan perlu. Tapi bukan dengan bilang bahwa dia harus berubah demi kebaikan dia. Emang siapa gwe kok bisa nentuin apa yg baik buat dia?”

“Lah, jadi??”

“Klo pun gwe harus ngomong ke dia, gwe akan lakukan dengan cara dia, yaitu terus terang. Gwe akan bilang kalau gwe terganggu dengan sikap dia. Dan gwe berharap dia bisa mengubah sedikit cara berpikir dan perilakunya supaya gwe bisa merasa lebih nyaman dan pertemanan kita juga nyaman.”

“Kok jadi kesannya jadi sisi ‘si gwe’ yang ga bisa beradaptasi? Bukan dia?”

“Lho, memangnya ngga? Kalau ‘si gwe’ bisa beradaptasi, bukannya justru ‘si gwe’ seharusnya ga complain? Kan emang ‘si gwe’ yang terganggu dan ‘si gwe’ juga yang perlu orang lain berubah mengikuti cara dia. Jadi bukankah memang ‘si gwe’ tidak bisa beradaptasi?”

“Yah tapi kan dia yang salah dan dia yang harus berubah, bukan ‘si gwe’.”

“Ya itu kan menurut lo. Mungkin aja menurut dia, ‘si gwe’ itu justru nyebelin, tukang basa-basi, dll? Who knows? Nah, lo udah nanya belom, apa alasan dia bersikap gitu dan udah ngobrol panjang lebar belom sama dia, instead of nasehatin dan nyuruh2 dia berubah?”

“Ih, apanya lagi yg mau diobrolin? Orang emang dianya yang gitu, sifatnya jelek. Semua orang juga mikirnya begitu.”

“Terus, klo semua orang ngomong gitu, kenapa semua orang itu ga ada yang ngomong langsung ke dia atau berusaha untuk nanya kenapa dia gitu? kenapa semua orang itu nunggu lo yang negur minta dia berubah? Gwe rasa kalau semua orang itu dateng ke dia satu-satu dan ngomong terus terang, dia mungkin bisa melihat ada begitu banyak orang yang terganggu dan mungkin dia akan berubah.”

“Yaaah, yang laen ga ada yang berani ngomong, cuma gwe doang yang berani.”

“Hehehe.. gitu ya? Yah, klo gitu sih, menurut gwe mungkin emang cuma lo doang yang sangat terganggu sampe perlu dia berubah. Mungkin yang semuanya itu ga terlalu terganggu2 amat, makanya mereka ga ngerasa perlu buka mulut.”

“Lho, jadi lo sekarang nyalahin gwe yang ga bisa beradaptasi?”

“Hahaha.. gwe sih ngga bilang gitu ya. Lagian kenapa lo harus ngerasa gwe salahin? Emang apa yang salah kalau ternyata emang cuma lo yang merasa terganggu dengan sikap dia? Apa lo ga menghitung diri lo sendiri sebagai satu suara bulat? Klo emang lo doang yang terganggu, juga gapapa. Selesaiin aja, gimanapun lo kan juga satu suara bulat di lingkaran pertemanan ini. Klo pun itu bukan whole circle issue, minimal itu adalah personal issue yg harus lo selesein sama dia.”

“Aargh, ribet jadinya ngomong sama lo.”

“Hahaha.. Sapa suruh.” *grin*

“Kenapa lo ketawa?”

“Hehehe.. btw, gwe jadi kepikiran satu pertanyaan lagi jadinya.”

“Apaan?”

“Lo sebetulnya ngomong ini semua ke gwe buat nyari solusi atau dukungan sih? Hehehe..”

“Yah dua-duanya.”

“Hehehe…kalo solusi gwe udah kasih tuh barusan. Kalau dukungan, so sorry, dear, gwe gak merasa terganggu dengan semua itu. Jadi yah gwe kasih semangat aja deh ya instead of dukungan. Hehehe..”

“Ah dasar lo mah! Padahal kan kalo lo yang ngomong, dia pasti berubah.”

“Hahaha.. well, no thanks.”

—-

Jangan katakan demi kebaikan mereka, apabila itu adalah demi kebaikanmu sendiri.
Bukan kamu yang perlu menilai baik dan buruknya seseorang, melainkan orang itu sendiri.




Flash News

Hamdiy is currently listening to :
Ingrid Michaelson - The Way I Am
Depapepe - Ii Hi Datta Ne