Assalamu’alaikum wr wb
Sekali2 mau posting serius aaah, huhuhuww.. *agak2 ga mungkin ya?*
Um, lets see..
Buat gwe, lebaran kali ini agak berbeda dengan lebaran2 sebelumnya. Kenapa? Ini lebaran pertama kalinya gwe ga ngikutin pemerintah, dengan beberapa alesan. Pertama, karena emang Dad lebaran hari itu, tapi itu bukan alesan utama. Kedua, gwe mungkin ga percaya sama pemerintah. Itu juga bukan alesan utama. Ketiga, coz tanggal 1 Syawal itu diharamkan untuk berpuasa. Mungkin ini salah satu alesan utama gwe, coz klo ternyata emang bener 1 Syawal hari Senin kan, ya berarti gwe bener tuh lebaran. Klo pun 1 Syawal yang bener hari selasa, ya berarti ntar gwe ganti puasa 1 di bulan lain.
But, bukan berarti gwe menyalahkan orang lebaran hari Selasa lho. Walau pun 1 Syawal misalnya bener hari Senin dan orang2 puasa hari itu, klo mereka meyakini 1 Syawal itu hari selasa, yaa, mereka ga dosa kok. Coz ada hadist yang mengatakan *kurang lebih* kaya gini, “bila engkau meyakini bahwa engkau benar, walau pun sebetulnya engkau bersalah, Allah akan mengampuni engkau, dan tetap menerima ibadah mu.” Kurang lebih kaya gitu, itu kasus wudhu sih waktu gwe mendengarnya. Klo misalnya kita yakin kita belom batal wudhu, -padahal sebenernya kita batal-, dan kita ga wudhu lagi dan langsung sholat, itu solat kita di terima, gitu intinya. Tapi lo harus bener2 meyakini klo lo bener.
Eh, back to topic. Terus, kenapa lebaran ini juga beda dari taon2 sebelumnya, coz tahun ini gwe ga nge-sms2 lebaran ke orang2. Hampir sama sekali ngga, cuma beberapa orang doang yang gwe kirimin pake sms jatah gratisan IM3, dan ke beberapa orang yang gwe anggap spesial dalam hidup gwe, atau orang2 yang gwe tau gwe punya salah ke mereka. Tapi itu paling semuanya cuma sekitar 13 orang lah. Biasanya, semales2nya gwe nge-sms lebaran, se-ngga-punya2nya pulsa, minimal gwe membalas sms orang2 yang ngirimin gwe. Tapi tahun ini ngga. Kenapa?
Yaah, karena gwe pikir, sms lebaran itu udah kehilangan maknanya. Sms2 itu cuma jadi formalitas doang, atau ajang menunjukkan existensi dirinya, atau sekedar sharing sms ‘bagus’. Mungkin gwe agak apatis, tapi buat gwe, sms itu udah menyimpang jauh dari tujuan/isinya. Mungkin klo isi “selamat lebaran yaa” itu cuma satu-satunya yang bener. Maksud gwe, iya, mungkin bener mereka ingin menyelamati kita, sama kaya menyelamati kita di hari ultah kita. Tapi sisanya, “mohon maaf lahir dan batin” gwe ga yakin mereka mengucapkannya dengan setulus hati. Mereka bahkan mungkin ga tau kesalahan mereka apa, dan mereka juga ga bener2 meminta maaf, hanya karena itu udah jadi “template” wajib di sms lebaran aja. Sama kaya “Minal Aidin wal Faidzin” dan “Taqabballahu minna wa minkum”, *sekali lagi mungkin gwe bersikap apatis*, banyak dari orang yang menuliskan itu ga tau apa artinya. Sekali lagi juga, karena emang itu udah “template” dan bagian dari paket sms lebaran.
Well, mungkin lo yang baca juga ga tau ya? =) Berapa banyak dari kalian yang mengasosiasikan “minal aidin wal faizin” dengan “mohon maaf lahir dan batin”, jadi klo ketemu orang pas lebaran, sambil salaman ngomong, “minal aidin yaa” dan maksud lo adalah ngomong, “mohon maaf yaa..”
Anyone of you, guys? =)
Ngaku aja kalee, gwe ga nyalahin lo kok, hehe.. Emang begitu lah keadaan di Indonesia saat ini, huhuhu.. I was happened to believed in that too, until beberapa tahun lalu gwe penasaran dengan arti “minal aidin wal faizin”, dan gwe nanya2 ke orang2.. Luckily, at last, pfiuh *coz ini perjuangan setelah menanyakan ke hampir setengah penduduk Indonesia yang gwe kenal, hehehe*, akhirnya ada juga yang tau. Beberapa hari yang lalu, gwe googling untuk bahan post ini, jadi isi post dibawah ini bukan pengetahuan gwe yang ‘waaah’, hehe.. gwe tadinya juga cuma tau klo “minal aidin wal faizin” itu sebenernya doa yang kira2 klo di bahasa Indonesia-in kaya gini : “Semoga kita termasuk golongan orang2 yang kembali dan juga golongan orang2 yang meraih kemenangan” coz aidin itu artinya orang2 yang kembali, dan faizin berarti orang2 yang menang. Gitu..
Nih asal kata “minal aidin wal faizin” dari artikel yang gwe temuin itu :
Kalau kita tadi menyoal tentang asal kata Ied (masdar atau kata dasar dari ‘aada=kembali), sekarang kita mencoba untuk membongkar asal kata ‘Aidin dan Faizin.
‘Aidin itu isim fa’il (pelaku) dari ‘aada. Kalau anda memukul (kata kerja), pasti ada proses pemukulan” (masdar), juga ada “yang memukul” (anda pelakunya).
Kalau kamu “pulang” (kata kerja), berarti kamu “yang pulang” (pelaku). Pelaku dari kata kerja inilah yang dalam bahasa Arab disebut dengan isim fa’il.‘Aidin atau ‘Aidun itu bentuk jamak (plural) dari ‘aid, yang artinya “yang kembali” (isim fa’il. Baca lagi teori di atas). Mungkin maksudnya adalah “kembali kepada fitrah” setelah berjuang dan mujahadah selama sebulan penuh menjalankan puasa.
‘aada = ia telah kembali (fi’il madhi)
Ya’uudu = ia tengah kembali (fi’il mudhori)
‘audat = kembali (kata dasar)
‘ud = kembali kau! (fi’il amr/kata perintah)
‘aid = ia yang kembali (isim fa’il).
Faizin juga sama. Dia isim fa’il dari faaza (past tense) yang artinya “sang pemenang”.
Urutannya seperti ini:
Faaza = ia [telah] menang (past tense)
Yafuuzu = ia [sedang] menang (present tense)
Fauzan = menang (kata dasar)
Fuz = menanglah (fi’il amr/kata perintah)
Fa’iz = yang menang.‘Aid (yang kembali) dan Fa’iz (yang menang) bisa dijamakkan menjadi ‘Aidun dan Fa’izun. Karena didahului “Min” huruf jar, maka Aidun dan Faizun menyelaraskan diri menjadi “Aidin” dan “Faizin”. Sehingga lengkapnya “Min Al ‘Aidin wa Al Faizin”. Biar lebih mudah membacanya, orang biasa menulis dengan
“Minal Aidin wal Faizin”.Lalu mengapa harus diawali dengan “min”?
“Min” artinya “dari”.
Sebagaimana kita ketahui, kata “min” (dari) biasa digunakan untuk menunjukkan kata keterangan waktu dan tempat. Misalnya ‘dari’ zuhur hingga ashar. Atau ‘dari’ Cengkareng sampe Cimone.Selain berarti “dari”, Min juga mengandung arti lain. Syekh Ibnu Malik dari Spanyol, dalam syairnya menjelaskan: “Ba’id wa bayyin wabtadi fil amkinah Bi MIN wa qad ta’ti li bad’il azminah.”
“Maknailah dengan “sebagian”, kata penjelas dan permulaan tempat dengan MIN. Kadang ia untuk menunjukkan permulaan waktu.”
Dari keterangan Ibnu Malik ini, kita bisa mendapatkan gambaran bahwa MIN pada MIN-al aidin wal faizin tadi menunjukkan kata “sebagian” (lit-tab’idh).
Jadi secara harfiyah, minal ‘aidin wal-faizin artinya:
“BAGIAN DARI ORANG-ORANG YANG KEMBALI DAN ORANG-ORANG YANG MENANG.”
Kesimpulannya?
Yang jelas Minal Aidin tidak ada hubungannya dengan mohon maaf lahir dan batin. =)
Lalu, gimana dengan Taqabballahu minna wa minkum? Atau Taqabbalallahu minna wa minkum. Sama aja. Penulisan itu dua-duanya bener kok. Tapi, sekali lagi, apa orang yang nulis itu tau artinya? Sama dengan kasus minal aidin, beberapa tahun yang lalu, gwe nanya2in arti kata2 ini juga, dan sekali lagi, sama dengan minal aidin juga, ternyata susah nemuin orang yang tau artinya, hehe. Akhirnya, yang jawab pertanyaan gwe ini sama ma yang jawab pertanyaan minal aidin gwe, yaitu salah satu oom gwe di Makassar. He told me, artinya itu kira2 mendoakan orang kaya gini, “Semoga Allah menerima amalanku dan amalanmu” Maksudnya amal ibadah.
Nah, sebenernya yang disunnahkan Rasulullah untuk diucapkan pada hari Idul Fitri, atau lebaran, ya kata2 ini, bukan minal aidin wal faizin. Dari artikel hasil googling gwe untuk post ini :
Rasulullah biasa mengucapkan taqabbalallahu minna wa minkum kepada para sahabat, yang artinya semoga Allah menerima aku dan kalian. Maksudnya menerima di sini adalah menerima segala amal dan ibadah kita di bulan Ramadhan.
Beberapa shahabat menambahkan ucapan shiyamana wa shiyamakum, yang artinya puasaku dan puasa kalian. Jadi ucapan ini bukan dari Rasulullah, melainkan dari para sahabat.
Kemudian, untuk ucapan minal ‘aidin wal faizin itu sendiri tidak pernah dicontohkan, sepertinya itu budaya orang Indonesia. Yang sering salah kaprah adalah ucapan tersebut biasanya diikuti dengan “mohon maaf lahir dan batin”.
Jadi seolah-olah minal ‘aidin wal faizin itu artinya mohon maaf lahir dan batin.
Padahal arti sesungguhnya bukan itu. Minal ‘aidin artinya dari golongan yang kembali. Dan wal faizin artinya dari golongan yang menang. Jadi makna ucapan itu adalah semoga kita termasuk golongan yang kembali (maksudnya kembali pada fitrah) dan semoga kita termasuk golongan yang meraih kemenangan.Sampai di sini, ternyata ucapan tsb (Minal Aidin Wal Faidzin) tidak pernah ada dasar dan tuntunannya.
Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 2/446 mengatakan: “Kami meriwayatkan dari guru-guru kami dalam “Al-Mahamiliyy at” dengan sanad hasan dari Jubair bin Nufair, beliau berkata: “Para sahabat Rasulullah apabila mereka saling jumpa pada hari raya, sebagian mereka mengucapkan pada lainnya: “Semoga Allah menerima amalanku dan amalanmu”.
Ibnu Qudamah juga menyebutkan dalam Al-Mughni 2/259 bahwasanya Muhammad bin Ziyad mengatakan :
“Saya pernah bersama Abu Umamah Al-Bahili dan para sahabat Nabi lainnya, maka apabila mereka kembali dari Ied, sebagian mereka berucap pada lainnya : “Semoga Allah menerima amalanku dan amalanmu”
(Imam) Ahmad berkata : “Sanad hadits Abu Umamah jayyid (bagus)”. Imam Suyuthi juga berkata dalam Al-Hawi (1/81): “Sanadnya hasan”.
Adapun ucapan: “Minal Aidin Wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin”,
“halal bi halal” atau “kosong-kosong” serta ungkapan-ungkapan lainnya, maka sebaiknya dihilangkan dan kita ganti serta membiasakan diri dengan lafadz syar’i yaitu (Taqobballahu Minna Wa Minka) sehingga kita tidak terj atuh dalam ayat : “Apa kamu mau mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik ?”
(QS Al Baqarah: 61)[Quoted from majalah Al Furqon Edisi 2 Th. II hal 37 "Hari Raya Bersama Nabi Shollallahu 'Alaihi Wasallam"]
Lanjut, apaan lagi yaa?
Ooh, iya, satu lagi, klo ini gwe baru tau tahun ini, dari Republika beberapa hari lalu, klo ternyata Halal bihalal itu bukan bahasa Arab! Itu buatan orang Indonesia, yang ga ada artinya dalam bahasa arab. Ckck, aneh2 aja ya orang Indonesia? hehehe..
Ya suw lah, gwe menepati janji gwe kan untuk posting serius kali ini? hihihi..
Anyway, Happy Belated Eid Mubarak 1427 H.
May Allah SWT bless us with His greatness.
Taqabballahu minna wa minkum.
Wa shiyamana wa shiyamakum.
Wassalamu’alaikum wr wb.
“If God answers your prayer, He is increasing your FAITH. If He delays, He is increasing your PATIENCE. If He doesn’t answer, He has something BETTER for you.“
-NdiY-
What did they say?