17
Dec

.: quote :.

Peyton : Even if we could be together, what makes you think it would work?
Luke : ‘Coz I feel it in my heart, don’t you?

– One Tree Hill, 1.13, Hanging by a moment –

Emily : Stop living your life like you’re in some kind of movie.
Peter : Excuse me?
Emily : Stop trying to cast your love instead of just meeting him.
Peter : When I meet him, I’ll know.
Emily : I’m not so sure. Love isn’t always a lightning bolt, you know? Maybe sometimes it’s just a choice.
Peter: Well, that’s easy for you to say! You’re flying to Argentina to meet the love of your life!
Emily : That’s just it. I don’t know that Paolo’s the love of my life, but I’ve decided to give him the chance to be. Maybe true love is a decision. You know, a decision to take a chance with somebody. To give to somebody. Without worrying whether they’ll give anything back. Or if they’re gonna hurt you, or if they really are the one. Maybe love isn’t something that happens to you. Maybe it’s something you have to choose.

– Love and Other Disasters –

Sarah : I didn’t come here to tell you that I can’t live without you. I can live without you. I just don’t want to.
– Rumour Has It –

.

~~~

in the heart on its own mind..
with the strength that lies within..
spread the wings to the blurry skies..
follow the faith..
in the heart..
on its own mind.

Well, Neng, maybe you’re right. I might be wrong, maybe what I feel for you is just a false alarm. But, what if I’m right?

06
Dec

:: Awareness Test ::

Check out this video. :)

Awareness Test !

I just being shown that video by Martin Lindstorm today. He’s a marketing Guru, by the way, and as for my personal comment on him, he really is a whiz as a marketer and a presenter.

*i’d like to give a standing ovation for his presentation*

Well, I love the ending message of the video, isn’t it just so true?

28
Nov

Her Story ll

Kindly read the previous “His Story I” and “Her Story I” before continue reading on this one.

Here’s the link:

http://manoftomorrow.blog.friendster.com/2007/11/his-story-i/
http://manoftomorrow.blog.friendster.com/2008/01/her-story-i/

~untuk semua alasan~

alasanku sudah habis.
kenapa kamu ga bisa mengerti?
bukan karena tempatnya jauh aku ingin diantar pergi.
bukan karena daerahnya menakutkan aku ingin ditemani.
bukan karena filmnya aku ingin ke bioskop.
bukan karena starbucks yang bikin aku ketagihan ngopi.
bukan karena makanan enak di restoran di puncak bukit yang aku tuju.
bukan karena barangnya sulit aku ingin kamu ikut mencari.
bukan karena aku tak bisa mencari sendiri maka aku meminta bantuan.
bukan karena takut menyebrang aku ingin bergandengan.
bukan karena sudah terlalu malam aku ingin dijemput.
bukan karena sekedar ingin bercerita aku meneleponmu.
bukan karena hanya iseng aku mengirim sms.
bukan karena mimpi buruk kemudian aku mengganggu tidurmu.
bukan karena sedih aku ingin kau mengelus punggungku.
bukan karena menunjukan indahnya hasil salon aku ingin rambutku kau belai.

apalagi?

pikiranku sekarang buntu. aku ga bisa lagi membuatnya.
semua alasan itu hanya rekaan.
kenapa kamu ga mengerti juga?
alasanku sebenarnya cuma satu.

itu kamu…

Aku membaca sekali lagi sebelum aku meng-click submit di layar monitor laptopku. Kalo sampe dia baca ini dan masih pura2 ga tau aku naksir dia juga, dia bener2 keterlaluan.

Ooh iya, namaku Za. Vyrza Widjajana. Lelaki yang aku maksud dalam blogku itu adalah Algebra Panca-Nawa. Al itu temen kantorku.

Aah, speaking of the devil, dia sedang berjalan ke arah mejaku.

“Hai Za.. si Bos ada?” tanya Al sambil memperlihatkan cengiran favoritnya.

“Yang mana nih?” tanyaku sok cool.

“Ya Pak Wied laah, ngapain amat aku nyariin Bu Gita atau Pak Dira?”

“Ya sapa tau aja gituuh. Lagian salah sendiri nanya ga jelas, wee..”

“Yearrite.. suka2 kamu deh, Za. Aku masuk aja nih ya?”

“Eh, bentar. Aku bilang dulu, maen masuk2 aja, kamu mau aku dipecat?”


Aku menelpon Pak Wied yang berada diruangannya, sebelah kanan mejaku, memberitahu Al ingin bertemu, kemudian Al masuk ke ruangan Pak Wied.

Oh ya, aku corporate secretary disebuah perusahaan konsultan, aku menangani 4 orang bos. Aneh ya? Padahal kan menurut pelajaran management, anak buah ga boleh punya direct boss lebih dari satu. Udah gitu aku ga punya asisten atau pun junior secretary lagi, huaah. 3 orang yang disebut Al tadi, Pak Wied, Bu Gita dan Pak Dira merupakan direktur muda dikantor sini, dan Pak Rizqi merupakan direktur utama, jarang2 muncul sih dia. Hm, ga ada yang menarik untuk diceritakan tentang pekerjaanku, yang pasti sih menuntut aku untuk feminin, padahal aku kan ngga feminin sama sekali, huuaa..

Oh iya, alesan kenapa aku ngobrol “aku-kamu” sama Al, bukan karena kita pacaran atau apa, *itu mah aku ngarep*, tapi emang karena aku selalu ngomong “aku-kamu” ke semua orang, si Al aja tuh aneh, ikut-ikutan gitu klo ngobrol sama aku, katanya biar mengimbangi.

“Za, ntar lunch bareng di Bang Gagap yuks..” suara Al mengagetkanku.

“Iih, demen banget sih makan ditempat ga elit kaya gitu,” sindirku.

“Hahah, sebodo deh, ga penting tempat mah, yang penting enak dan murah, huahaha.. Jadi mau ga?” tanya Al sambil menaikkan sebelah alisnya, salah satu ekspresi kesukaanku, hehe.

Kenapa sih dia harus memandang aku sambil senyum-senyum ga jelas gitu..

“Eng, boleh deh, sama Kiko juga?”

“Ngga, dia lagi keluar, palingan sekalian makan ma Alex.”

“Oohh..”

“Yasuw, aku cabs dulu, Za, ntar jam 12 teng ketemu dibawah yak.”

“Oke.”

–xoxoxox–

“Za, kamu mau mesen apaan?” tanya Al setelah kita duduk di bangku panjang Bang Gagap.

“Hmm, cumi saos padangnya satu, sama es teh manis ya, bang, hehe..”

“Haks, siyals. Yasuw, aku pesen dulu.”

FYI, Bang Gagap adalah warung tenda pinggir jalan dibelakang kantor kita, jualannya seafood. Menu andalannya adalah ikan ayam2, which is pesenan Al tiap kali kesini. Tempatnya kumal, tapi tetep rame oleh pegawai2 kantor sekitar sini.

“So, ada gosip baru apaan, Za?” tanya Al setelah kembali duduk didepanku.

“Ha? Gosip apaan? Kenapa tiba2 kamu nanya gosip?”

“Haha, apaan kek. Kamu kan eksis di kantor, peri gosip. Sapa yang jadian, sapa yang putus, sapa yang mau kawin, hehe..”

“Huu, dasar.. ga ada yang baru sih. Btw, sabtu kemana, Al? nonton twilight yuks..”

“Yaah, sabtu aku udah janji mau nemenin Elisa nyari bahan kebaya, minggu aja yak?”

There she goes. Elisa. Wanita yang dicintai Al. Aaargghh, ga adil, aku udah berjuang mati2an untuk mendapat perhatian Al, ga juga berhasil. Hampir selalu aku yang memulai sms, yang mengajak pergi, walau kadang Al yang menawari seperti tadi makan siang. Tapi itu kan karena Elisa ga sekantor, kalau sekantor, udah pasti aku ga diajak. Ihik. Sementara Elisa, tanpa melakukan usaha apa2, mendapatkan perhatian dan cinta Al.

“Zaa.. Yee, dia malah bengoong..” tegur Al.

“Ooh, boleh deh, Al. Hari minggu aja. Jemput kerumah yaa, hehe..”

“Dasar kamu mah ngelunjak. Yaudah, nonton di Pasaraya aja lah ya biar deket.”

“Aseeeekkk..”

Aku menikmati masa2 kebersamaanku dengan Al, aku ga bilang tadi ke dia, klo di kantor kan aku sama dia digosipin jadian, hihi. Kayanya sih dia ga peduli, ada juga dia seneng digosipin, aneeh. Paling nih ya, klo aku kasih tau, dia bakal bilang, “aseek, aku digosipiin..”

As for me, aku sih juga seneng2 aja, iya lah, ngarep kejadian beneran malahan, hehe. Lagian emang klo dipikir2, aku sama Al deket banget, udah kaya orang pacaran. Aku sering banget minta temenin kemana2 *egois emang, tapi gpp lah, everyone deserves to be happy kan ya?*, udah gitu emang Al juga emang orang yang ga pernah nolak diajakin pergi, kecuali dia udah janjian ma orang lain, cowo murahan, kataku, hihi. Tapi yaa gitu, aku sih pergi hampir selalu sama Al kemana2, tapi Al mah ngga. Sering pergi sama Al ga membuat aku merasa spesial, soalnya dia juga pergi sama cewe2 lain juga, hu-uh. Aku sebel kadang2, tapi ya gimana lagi, he’s everybody’s someone, semua kayanya ngerasa memiliki Al, huaah..

–xoxoxox–

The very next morning, in the office.

“Morning, Sunshine..” Al memunculkan kepalanya ketika aku berjalan melewati kubikelnya.

“Eh, Al. Pagiii.. Ngapain kamu tumben2an kamu udah sampe pagi2 gini?”

“Hehe, iya nih, abis nganter si Dante ke airport, jadi tadi aku sampe jam 7, paraah. Udah kaya anak sekolahan, masuk jam segitu.”

“Ahaha, salah sendiri, bukannya nongkrong dulu gitu sarapan dimana.”

“Udah beli dunkin, males makan sendirian, mending sama kamu aja, aku beliin kamu sandwich nih..” katanya sambil mengangkat bungkusan sandwich dari mejanya.

“Wow, makasiih.. sama hot chocolate-nya juga ga, Al? hehe..”

“Haha, serves you right,” Al mengangkat gelas hot chocolate sambil nyengir. “Btw, Za, kamu kesini naik bajaj ya, tadi?”

“Ha?” aku lagi bengong takjub dikasih sandwich, ditambah lagi ditanya pertanyaan ga nyambung gini. “Ya ngga lah, aku bareng si Papah. Lagian mana ada juga bajaj lewat sini. Aneh2 ajah. Kenapa emang, Al?” tanyaku penasaran.

“Ngga, kirain abis naik bajaj, abisan getarannya masih berasa nih sampe hatiku, ahaha.”

“Hiii, ga mutu banget gombalan kamu, dangdut abis2an.”

“Hahah, bodo aah, dangdut2 juga kamu suka, hoho.”

Mau ga mau aku senyum. Aku duduk di sebelah Al, kubikel Kiko, temen baik Al sejak kuliah. Heran deh, kok mau2 aja ya udah kuliah bareng 5 taon, kerja dikantor yang sama, sebelahan lagi kubikelnya, ckck. Mungkin klo ga ada aku, gosip kantor berubah, bukan aku sama Al yang digosipin, tapi si Al sama Kiko itu pasangan gay, hehe.

“Eh iya, makasiiy, Al, sandwich-nya,” aku membuka dan mulai memakan si chicken & egg sandwichku.

“Anytime, babe..”

“Si Dante kemana lagi emang, Al? Enak banget ya pergi2 melulu.”

“Ke Makassar. Tau tuh, lama2 jadi anak seribu pulau dia, ahaha..”

Dante tuh temen deket Al juga, banyak banget temen deket dia, geng waktu kuliah gitu, rame deh pokoknya, belom lagi tambah geng Elisa, klo ngumpul super rame. Aku berasa outsider klo lagi ikutan ngumpul, sama ada lah beberapa pacar dari mereka yang senasib kaya aku jadi outsider, hehe. Tapi setidaknya mereka PACAR dari salah satu anggota, nah aku.. bukan siapa2, huuaa.. *hush, pagi2 udah meratapi nasib, ga boleh ah*

Aku dan Al mengobrol sampai orang2 kantor mulai berdatangan, walau emang pengen digosipin sama Al, aku tetep aja ga enak, pagi2 kok udah berduaan aja, bikin orang2 jealous, hehe. Aku pamitan ke Al, menuju mejaku dan menyiapkan file2 Bu Gita untuk meeting pagi ini.

Setelah selesai, aku menyalakan PC dan menjalankan rutinitas biasa, cek email, buka IM, cek account2 di situs pertemanan, sama buka blog. Hehe, pegawai jaman sekarang, dikasih internet malah kaya gini. Gpp ah, asal bisa menyelesaikan semua kerjaan dengan bener mah, menurutku, huhu.

Eh, ada komen dari Al.

“Aku tau kok, Neng. Lagian yang nyuruh kamu buat alesan tuh siapa, daripada ngarang buat alesan, mendingan kamu ngarang cerpen aja, ikutan lomba, klo menang traktir aku di subway atau avenue-a-pizza, ahaha..

Btw, kamu ga pake alesan kan juga aku temenin, hoho.. :malu:”

Iih, dasar Al mah, hobinya buat orang Geer aja, sebel. Nevertheless, aku seneng dan senyum2 ga jelas abis baca.

Aku mengetik balesen, “Iih, geer. Emang kamu kira itu buat kamu apah? Hoho..

–xoxoxox–

“Filmnya kereenn.. ga nyangka.. aku ga suka film dari buku biasanya, hehe..” kataku setelah keluar dari studio 3 MPX Grande. “Apa mungkin karena aku udah prepare mental klo filmnya bakal biasa aja ya.”

“Iya, keren filmnya.”

Ada yang aneh dari Al hari ini. Dia ga bawel kaya biasanya, aku udah menyadari dari tadi pas di perjalanan menuju kemari. Tadi aku kira karena dia masih ngantuk atau cape, tapi ternyata sampe sekarang dia tetep begitu. Ga berubah 180 derajat sih, malah ga keliatan dia kenapa, tapi kadang2 aku ngerasa ngeliat dia sedang berusaha menjadi seperti biasa, jadi sepertinya ada yang aneh. Hmm, I smell something fishy. Apa perasaanku aja ya?

“Al, maen bowling yuk. Olahraga kitaa..”

“Ahaha, bowling mah bukan olahraga kali, gitu2 doang. Ayo boleh, yang kalah bayarin makan siang yak, hohoho..”

“Woogh, you’ve picked the wrong enemy, Mister, fufufu.”

Tuh kan, sekarang dia kembali normal. Kadang2 suka lost gitu tadi, kadang2 normal. Aneeehh..

.

“Ahaha, cupu banget kamu, Al, gutter lagi,” aku menertawakan Al yang baru saja melakukan gutter untuk kedua kali berturut2 di lemparan kedua.

“Aarggh, pasti salah lane-nya niih, protes ke mbaknya aah.”

“Ahaha, itu mah kamu ajaa, aku ga kenapa-napa tuh.”

“Abisan, lemparan pertamaku baik2 aja, klo ga langsung strike, minimal jatoh 7 pin. Lemparan kedua kok gutter melulu ya? Hehe..”

“Hmm, makan apa yaa ntaarr?” aku menggoda Al, sambil memandang scoreboard, aku 91, Al 77. Masih ada 4 frames lagi sih.

“Berasa udah menang aja kamuh. Aku kan nge-voor kamu, tauk.”

“Hihi, klo aku yang kalah makan rotiboy aja ya, Al, aku ga laper kok..”

“Yikes, enak ajaah.. hanamasa !! eh, klo aku yang kalah, aku yang bayar ya? Ga jadi deh, aku juga ga laper kok..”

“Ahaha.. klo frame sekarang aku strike, aku menang berarti.”

“Haks, kamu daritadi kan ga bisa strike, paling spare doang. Klo strike sekarang kamu boleh minta apaan aja, asal jangan minta laptop atau mobil, hoho.”

“Beneer yaaa? Bentar aku berdoa dulu..”

Aku melempar bola daaan…

STRIKEE !!

“Ahahaha.. In your face !!” kataku kedepan muka Al sambil tertawa puas.

“Aargh, kenapa aku siyal banget sih hari ini, ihiik..” Al mengerang.

“Ntar, Al, aku pikir2 dulu mau kado apa. Kayanya DSLR boleh juga tuh..”

“Wogh, ajigile, bisa puasa 2 bulan aku ntar. Ga boleh milih itu, Za.”

“Iih, ga konsisten, katanya tadi asal jangan laptop atau mobiil.”

“Yeee, maksudnya jangan yang aneh2 kaya gitu. Yang mahal2 sih tepatnya, ahaha”

“Ya udah, aku pikir baik2 dulu klo gitu, haha.”

Dan game berakhir untuk kemenangan Al, 132 – 131. Udah kaya di komik, aku kalah dramatis di lemparan terakhir, cuma beda satu poin lagi. Klo di komik, berarti Al tokoh utama dong, aku musuhnya, huuaa..

“Huahaha.. Kamu ga percaya siih, tadi aku kan nge-voor doang pertama2,” Al ketawa super puas akhirnya menang.

“Iih, ngga, tauuu, itu mah aku kasian sama kamu, jadi aku kasih deeh tuh pas terakhir aku sengaja miss 2 pin biar kamu menang.”

“Aah, alesan aja kamu. Ayo ke hanamasa.”

“Aaalll.. tadi katanya ga lapeerr..”

“Muahahaha.. kan aku yang menang, klo aku yang kalah sih d’crepes, hohoho.”

“Hiii, curang. Ya udah, rotiboy aja ya, hehe. Eh, aku mau blenger ah, udah lama ga makan disitu.”

“Hoo, good idea, wai yu kei (YUK) !”

.

Aku memesan cheese burger dan the botol, sementara Al memesan chilli dog, cheese burger, dan the botol. Kurang ajar emang dia, mentang2 aku yang bayar, mesennya dua, ckck.

“Awas lo, Al, klo ga abis,” ancamku, walau aku tau ga mungkin dia ga ngabisin.

“Ya, ya. Aku pasti abisin kok, kan dibayarin, ahaha..”

“Eh, Al, tadi pagi kenapa sih? Kayanya kamu agak2 beda tadi sampe abis nonton.”

“Hah? Masa sih? Ngga ah, aku gapapa kok, ngarang aja kamuh,” elak Al. “Eh iya, jadi si “untuk semua alasan” itu buat sapa, Za? Buat aku kaan?” lanjutnya sejurus kemudian.

Iih, beneran kenapa2 nih si Al. Curang banget dia mah, ga pernah mau cerita. Mana mengalihkan pembicaraan lagi, ckck. Bener2 curang kuadrat !

“Iya lah, buat kamu, buat siapa lagi? Aku kan jalan sama kamu doang, hoho.” Aku mencoba menjawab dengan nada kasual.

“Beneran, Za?” tanya Al lagi.

“Yearrite, ngareeep aja, kamuu, ahaha..” aku tertawa (agak) gugup.

“Ah, kirain beneran buat aku.”

No good, harus mengalihkan pembicaraan nih.

“Eh, Al, tau ga, kita kan dikantor digosipin, ahaha.” Oops, salah milih topik, ini mah sama aja.

“Woogh, masa sih? Kok aku ga tau ya? Aseek digosipiin..”

See, I told ‘cha, dia mah emang gila. Orang kok seneng digosipin, ckck..

“Iya tuh, beberapa hari lalu si Nadia nanya aku, kita udah jadian ya? Bener2 gosip deh cewe2 ituh.”

“Hihi.. Terus kamu bilang apa?”

“Bilang apa? Ya ngga laah.. kamu lagi ikut2an aneh nanyanya.”

“Aah, too bad, harusnya kamu bilang aja kita jadian, biar seru, ahaha..”

Yearrite, as if. Kamu ga tau sih, Al, aku juga mau bilang gitu, tapi klo kejadian beneran.

“Hidih, males banget. Ntar Kiko denger, dikirain aku ngaku2 jadi pacar kamu, hueks.”

“Hahaha..”

Kita melanjutkan makan dalam diam, Al entah karena laper atau kembali autis, aku sih lagi menghindari pembicaraan tentang aku dan Al, hehe. Abis makan, balik lagi ke Pasaraya *bener2 kurang kerjaan mondar-mandir*, aku mau nyari blazer kerja baru. By my surprise, Al insists untuk ngebayarin si blazer yang aku beli, katanya tadi kan dia janji mau ngasih kado klo aku strike. Iih, aku kan ga mau blazer, aku maunya jadian sama dia, hehe. Tapi ya sudah lah, there’s no point arguing with him, dia kan keras kepala. Toh, aku ga rugi apa2, malah dapet blazer gratis, hehe. Uang jatah beli blazer buat apa ya? Ahaha..

Abis itu Al nyari mainan buat keponakannya di lantai 4, terus, udah deh, sekarang kita lagi di mobil Al menuju kerumahku, di radio lagi ada lagu favoritku, Stupid For You-nya Marie Digby.

.

It’s not everyday,
that I find a person quite like you
Perfect every way,
I finally found the nerve to confess that it’s you - that I want

.

“Eng, Al, makasiy yaa buat hari ini. I’m having fun today.”

“Haiyah, makasiy buat apa coba? Kan tadi kamu yang bayarin aku bowling ma makan, hehe..”

“Iih, terima aja sih aku ngomong makasih. Lagian juga buat si blazer, kan aku ga minta itu buat kado strike akuu. Berarti aku masih punya jatah kado ya? Hehe”

“You wiish.. Ya, ya, sama2. I’m having fun too, kok..”

.

The proper thing to do
is for me to act like a lady and wait
for you to make the first move
.

“Al..”

“Hmm..”

.

But I don’t think you’re getting the point
that it’s you - that I want

.

“I love being with you, Al.. Makasiy ya udah nemenin aku kemana2 selama ini.”

“He? Kenapa kamu, Za?”

“Hehe, gpp, just expressing my gratitude for having a friend like you..

Sometimes I wonder where did I go right, to found someone like you, hehe..”

“…”

.

I don’t care if I act a fool
I would damn near beg for you
put aside, all my pride
.

“Za..”

“Hmm..”

“Aku sayang kamu, Za..”

.

So don’t keep me hanging here
Coz this girl is falling stupid for you..

..

Footnote :

*the “untuk semua alasan” poem courtesy on Dewi Amelia*

10
Nov

.. misread ..

Okay, I’ll be stop pretending that I’m okay.

I’m not fine, really.

I don’t know what’s going on lately, it’s like there’s a haze around me, so that I can’t see things clearly.

I rushed things up, I didn’t do well on running some simple errands, I couldn’t even cleaning up the messes that I’ve done in the past.

Its just.. not like me.

And the worst of all, I’ve misread one important thing that could have been changed my life.

*sigh*

Oh, well, I’m just whining and babbling, just do ignore this.

29
Oct

Does love need reasons?

Does love need reasons?

If so, what about if all the reasons that made you fall in love with him/her suddenly disappeared? What about if all the reasons that you’ve got is gone? Or if it is eventually fade away? Will you still love him/her?

.

So, love doesn’t need reasons?

Maybe. But if so, what things would you hold on to, if something went wrong along the way, or when you’re not so sure about your feeling to him/her anymore. If you have the reasons, you’ll remember how and why you’re falling for him/her, so it will be the reminder why you held on for so long in the first place, when you feel like giving up.

.

So what do you think, does it or doesn’t it?

27
Oct

where did i go wrong?

Kukira aku memilikimu untuk sesaat..
Namun ternyata kau menjelma menjadi sebuah ketidakpuasan lainnya..
Yang kembali membutuhkan dirimu yang lain..

.

Kukira semua ketidakpuasanku akan terselesaikan saat aku memilikimu..
Ternyata kau hanya menambah rasa tak puas yang kumiliki..
Dan hilang dalam hitungan detik..

.

Kenyataannya aku tak pernah bisa memilikimu..
Meskipun aku bisa memilih merasa memilikimu..
Untuk sebuah penghiburan diri dan permakluman dari orang lain..

.

Dan aku memutuskan untuk berhenti mencarimu..
Dan berhenti mengharapkanmu..
Dan berhenti bersikap seolah aku mengenalmu..

.

Dalam ada dan tiada..
Kau tiada bagiku.

20
Oct

:: Being Human ::

Dalam hidup ini, banyak hal yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan kita. Sebagai satu2nya makhluk yang dikasih free will oleh Allah, kita harusnya tau klo kita itu bisa bertindak dan berpikir sesuka hati kita. Begitu pula dengan seluruh manusia lain selain kita.

.

Karena itu, harusnya kita tau, klo setiap orang itu punya mindset yang berbeda2, cara berpikirnya beda. Pun ketika pengambilan perspektif dalam memandang suatu hal. Every single thing in this life can be looked up from different perspectives, it depends from which side do you want to see it.

.

Hidup ini seperti puzzle, kita ga bisa ngeliat the bigger picture-nya cuma dari kepingan puzzle satu2, harus liat the whole picture untuk tau what it is all about. Masalahnya adalah, ya itu tadi, hidup ini seperti kepingan puzzle, kita ga bisa liat the whole picture-nya langsung.

.

Susahnya jadi manusia, klo dia udah menetapkan mind set-nya, ya udah, apa2 yang beda dari mind set-nya adalah salah. Orang yang beda cara berpikirnya dari dia adalah musuh, kita udah pasti yang bener.

.

Coz terkadang, people just wanna see what their eyes wanna see, memandang suatu hal dari satu sisi aja, tanpa mau ngeliat dari perspektif lain. Contohnya aja, all the villains are evil. Penjahat ya penjahat. Ga ada yang pernah mau tau, alesan kenapa mereka melakukan itu?

.

Seharusnya, ketika kita sedang ngobrol, atau berdiskusi, dan berinteraksi dengan orang lain, ketika kita udah menetapkan which side we choose, okay, take our stance, BUT, free and open up our mind, kita harus terima pendapat orang lain, karena belom tentu kita itu benar. Terima aja argumen yang berbeda sama kita, karena mungkin mereka benar, mungkin kita salah. ATAU mungkin juga kita benar, mereka salah. ATAU mungkin kita sama2 benar, tetapi beda perspektif. ATAU kita sama2 salah. Kita ga perlu setuju dengan mereka, itu terserah, itu hak kita, yang penting dengerin dulu apa kata mereka, coz mereka juga punya basis dalam omongan mereka, sisi yang mungkin tidak kita lihat.

.

What’s good of being human is that we have those differences. Well, sekali lagi, it depends, kita mau melihat perbedaan itu gimana, either it is more blessing than curse, or vise versa.

.

Menurut gwe, perbedaan itu lah yang akhirnya membuat suatu perubahan, karena dengan adanya perbedaan, berarti kepingan2 puzzle itu akhirnya tersusun, dan memperlihatkan the bigger picture-nya.

.

Sayangnya, sekali lagi, manusia itu memang terlahir egois dan keras kepala, mau menang sendiri dan merasa benar terus, ga menyadari kalo kita ini makhluk sosial, yang harus hidup bersama2, ga bisa hidup sendirian, tetep aja susah untuk memandang suatu hal secara objektif.

.

Coba deh, jadi manusia yang bijak, coz a wise person knows that there is something to be learned from everyone.

.

Coba juga untuk jadi manusia dewasa, yang tau klo kita ini ga bisa memaksa orang lain untuk selalu setuju dengan kita, karena emang setiap manusia itu berbeda. Kita ga bisa maksa orang dewasa lain untuk melakukan sesuatu yang dia ga mau, untuk ikut menyukai apa yang kita sukain, atau untuk berpikir sama seperti kita.

.

Walau susah, dan emang harus diakui, mengubah diri sendiri itu susah, sometimes we’re our own worst enemy, but still, you’ve got to try, becoz as a human, we can change ourselves.

.

Selamat menikmati perbedaan!

.

Well, buat penutup, gwe ambil postingan [NOT] WYSIWYG dari blog gwe.

.
Tidak semua yang kamu lihat itu benar, dan tidak semua yang tidak terlihat itu tidak ada.
Terkadang, kita hanya melihat apa yang terlihat saja.
Terkadang, kita hanya mau melihat apa yang kita mau lihat.
Sering kali, kita tidak mau berusaha untuk melihat apa yang tidak terlihat.
Sering kali, kita sengaja tidak mau mencari dan melihat apa yang tidak terlihat.
Padahal sering kali, apa yang kita lihat itu tidak benar.
Padahal, sering kali, kebenaran itu tidak terlihat.
Padahal, sering kali, sesuatu yang penting itu tidak terlihat.
Tolong, kamu lihat lagi lebih dalam, see beyond the underneath, will you?

26
Sep

Doraemon Ending

Duluu, Doraemon adalah salah satu film kartun yang gwe tunggu klo hari minggu. Kartun yang ga ada mati-nya, walau ceritanya gitu2 doang klo dipikir lagi mah, hehe.. Film kartun lain datang dan pergi di RCTI, Doraemon tetep ada, kaya ga ada endingnya gitu. Emang sih, si pengarangnya, Fumio F. Fujiko, ga sempet nulis ending Doraemon sampe akhir hayatnya *tsah, bahasa gwe*, naah, ketika abis dia meninggal, muncul banyak versi tentang ending-ending Doraemon.

Duluu gwe sempet dikirimin tuh beberapa komik alternatif ending Doraemon, tapi gwe lupa email gwe apa dan passwordnya, hehe, masih belom jaman orang2 punya email sepertinya, hoho..

Untungnya, dari beberapa alternatif itu, yang paling gwe sukaa, ternyata ada versi Indonesia-nya, nemu di blog-nya Titiw. Buat Mas Ang, makasiy yak udah di-upload tuh komiknya. :D

Btw, klik disini klo mau tau tentang ending-ending Doraemon lainnya.

Well, tanpa babibu lagi, let’s the story begin..

http://i166.photobucket.com/albums/u113/anggitpy/Doraemon%20Ending/01.jpg?t=1182619921

http://i166.photobucket.com/albums/u113/anggitpy/Doraemon%20Ending/02.jpg?t=1182619921

http://i166.photobucket.com/albums/u113/anggitpy/Doraemon%20Ending/03.jpg?t=1182619921

http://i166.photobucket.com/albums/u113/anggitpy/Doraemon%20Ending/04.jpg?t=1182619921

http://i166.photobucket.com/albums/u113/anggitpy/Doraemon%20Ending/05.jpg?t=1182619921

http://i166.photobucket.com/albums/u113/anggitpy/Doraemon%20Ending/06.jpg?t=1182619921

http://i166.photobucket.com/albums/u113/anggitpy/Doraemon%20Ending/07.jpg?t=1182619921

http://i166.photobucket.com/albums/u113/anggitpy/Doraemon%20Ending/08.jpg?t=1182619921

http://i166.photobucket.com/albums/u113/anggitpy/Doraemon%20Ending/09.jpg?t=1182619921

http://i166.photobucket.com/albums/u113/anggitpy/Doraemon%20Ending/10.jpg?t=1182619921

http://i166.photobucket.com/albums/u113/anggitpy/Doraemon%20Ending/11.jpg?t=1182619921

http://i166.photobucket.com/albums/u113/anggitpy/Doraemon%20Ending/12.jpg?t=1182619921

http://i166.photobucket.com/albums/u113/anggitpy/Doraemon%20Ending/13.jpg?t=1182619921

http://i166.photobucket.com/albums/u113/anggitpy/Doraemon%20Ending/14.jpg?t=1182619921

http://i166.photobucket.com/albums/u113/anggitpy/Doraemon%20Ending/15.jpg?t=1182619921

http://i166.photobucket.com/albums/u113/anggitpy/Doraemon%20Ending/16.jpg?t=1182619921

17
Sep

:: Love is not about Forever ::

I can love every woman in this world easily,
and I can be with them whenever I want to..
maybe my love for you is not forever..
and I will still be fine when one day you left me in this world..

but as long as I have you in my life..
I will need no other women in this life..
cause you are the one,
that I will always want to be with..
and the one that I wished to have my future with.

~~~
Love is not about forever,
it is about us , being together with our best,
in the moment given in our life..
and that’s all the only matters.

11
Sep

.. a blast from the past ..

A blast from the past [phrase] : something or someone that returns after a period of obscurity or absence. It is normally applied to things that that were thought fondly of previously and are making a welcome return.

~~~

PART I

I don’t exactly remember when I was first knew her, as far as I remember, I’m in 2nd grade of Senior High, which is around 1999-2000. I think it’s still in 1999, since we already in a relationship on the Ramadhan month *at that time, which is on January, 2000, CMIIW*

How we met and finally ended up as a couple, it’s kinda embarrassing to be told, huahaha..

We’re just high-school students at that time, after all. :D

Well, the story goes..

I lived in Depok, (further south of south of Jakarta) and she lived in Kalideres (west of Jakarta) , at that time, it feels like we lived in different city *which is quite-true*.

Well, yeaah, at that time, I barely used Pa-Per (Panah Perak a.k.a Silver Arrow, the name of my car) for my personal use, since it was the only car at that time, so, Dad rules ! :D

So, to get there by bus, it takes around 1 and half hour on normal trip, plus the waiting time for the bus and the traffic jam in Jakarta, it’s possible to take around 3 hours.

To cut the story short, we’re sort of in a long-distance relationship. Most of the time, we just communicated by phone (dont be mistaken, it’s a fixed-line home phone, not mobile phone), chat or e-mail. The funny part is, even when I went to Makassar for Eid Mubarak, almost everyday I went to wartel (I don’t know the english word for this, its like a phone booth) to call her, attaboy. :D

I also didn’t remember how long we were in the relationship, becoz it just faded away, I’m stop calling her, and so did she. *most likely becoz I already have a new girlfriend, and apparently, so did she * :D

So, the story ends, and the memory of her slowly but surely fade out of me.

ends of part I ..

PART II

Couple of weeks ago, I casually click on “who’s viewed me?”, and my eyes was stop at a particular name, NaDa. First tought, “hmm, nice name..”, and second thought, “anyone that I know named Nada?” Yep, I knew one, I found myself answer. So, the third thought was, “is this Nada that I knew?”

I looked at the picture, but my brain can’t recalled of such a beautiful lady in the picture, so I open the profile. What an abandoned profile it was, the only thing in the “more about NaDa” is just :

Zodiac Sign:
Sagittarius
About Me:
i’m just an ordinary girl with an ordinary life

So, I clicked the photo gallery, luckily, there are quite a lot of photos. After looking all of the photos, I’m still not so sure what to do, so I leave her a message, asked her whether I knew her or not, and not to forget to give her a brief introduction, “Hi, I’m Hamdiy, *almost* 25th years-old”

The next day, there’s a reply from her, and SURPRISED, she turns out to be the Nada that I knew, my ex-girlfriend 8 years ago, *if it can be called so, since I never counted her as my ex, hehe* *No offense, Nad* :D

There was an eyecatchy thing of the message, that she’s correctly stated my birth date, so on the reply, I wrote, “wow, how could you even remember my bday?”, and on the next reply from her, she turns out to be even more creepy, huahaha.. *sorry, Nad*

Well, I can’t help it. Tell me, how can it be called not creepy that she’s still remembered my address, my telephone number, my full name *that even my current friends doesn’t know or bother to memorized*, the names of my best friends at that moment, and even my ex’s name before her, huahaha..

You truly are creepy, Nad. :D

Even more creepy, on our next2 conversations, it turns out that she also remember my email address that I tried to recalled, and this is the best part : she remembered the contents of love-letter that I even forgot ever wrote it, and sent her along with the Eid Mubarak Card *is it, Nad?*

Anyway, if you still have it, please do burn it, Nad, that will be very humiliating if someone that I know read it now, ahahaha..

See? That’s kinda creepy, you knoww.. Coz as for me, what I remembered about her is just that her name is longer than mine, and her house is at Kalideres, that’s all. I even forgot her full name, hehe.

ends of part II ..

~~~

Well, as for the final words, I’m so glad that we’re met again, Lina Nada Assyifa Nurshal Alganis Putri..

Can’t wait for the January to come.. :-)




Flash News

Hamdiy is currently listening to :
Ingrid Michaelson - The Way I Am
Depapepe - Ii Hi Datta Ne